Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Perdagangan Ikan di Jogja Fish Market Mati

– Upaya Jogja Fish Market (JFM) untuk menggandeng pedagang ikan berjualan di pasar ikan Yogyakarta selatan ini, rupanya belum membuahkan hasil.

Laporan Reporter Jogya/ Rina  eviana / hdy

TRIBUNJATENG.COM YOGYA, – Upaya Jogja Fish Market (JFM) untuk menggandeng pedagang ikan berjualan di pasar ikan Yogyakarta selatan ini, rupanya belum membuahkan hasil. Setelah pernah dua setengah tahun sempat mangkrak, Juli 2011 kemarin pengelola telah menggandeng pedagang kuliner Depok untuk membuat kuliner Jogja-Depok (Jode) di area JFM. Namun kuliner Jode hanya bertahan sebentar. “Sudah dua bulanan ini tidak beroperasi lagi,”  jelas Manajer Sumber Daya Manusia dan Area Publik Jogja Fish Market Wigiharto, Minggu (12/2/2012).


Padahal menurut Wigi, selama ini pedagang Jode kuliner, telah difasilitasi oleh pengelola. Semua biaya digratiskan . Pembebasan biaya mereka, supaya JFM sebagai pasar ikan higienis dan kuliner Jode bergeliat. “Ini juga untuk melakukan kampanye gemar makan ikan di Yogyakarta. Namun upaya kami memang masih menemui kendala. Susah menarik pedagang ikan untuk menghidupkan sektor perikanan di sini,” jelasnya.


Menurut Wigi, Jode kuliner di awal launching sempat menunjukkan progres bagus. Kuliner yang dikelola oleh anggota Koperasi Mina Bahari 45 dari Pantai Depok Bantul  ramai dikunjungi pengunjung. Masyarakat bisa berbelanja ikan segar maupun dimasak dan langsung dinikmati di tempat tersebut tanpa harus ke Pantai Depok. Namun semakin lama semakin sepi dan akhirnya dua bulan terakhir sudah tidak beroperasi lagi.


Diakuinya, meskipun selama ini pedagang ikan telah difasilitasi, namun pengelola JFM susah membawa pedagang ikan masuk ke area JFM. Menurutnya, meski digratiskan namun pedagang ikan belum pede berjualan di JFM dan memilih berjualan hasil laut di pasar tradisional yang sudah eksis.


Hal tersebut, katanya, lantaran bisnis ikan bukan bisnis umum. Para pedagang ikan tidak mau gambling karena bisnis ikan butuh perhitungan rigit. “Operasional pedagang ikan itu besar sementara resiko tinggi. Kalau tidak laku malah mereka rugi karena ikan tidak bisa disimpan lama. Untungnya pun hanya 10 persenan,” katanya.


Karena sektor perikanan di area JFM belum bisa hidup, untuk biaya operasional bangunan yang didirikan Kementrian Kelautan ini, pihak pengelola hanya mengandalkan biaya sewa gedung dan katering. “Yang masih laku di JFM hanya sewa gedung dan katering,” jelasnya.


Pada Juli 2011 lalu, lima pedagang Jode kuliner dihadirkan di JFM untuk membangkitkan pasar ikan di area tersebut. Berbagai jenis hasil laut seperti cumi, kerang, udang dan ikan dijual di tempat ini. Selain bisa dibeli mentah, pengunjung juga bisa menikmati langsung olahan masakan hasil laut di halaman JFM ini. “Dulu waktu puasa juga sempat ramai sebenarnya. Mungkin karena lokasi jauh, pasokan kurang sementara keuntungan tidak banyak jadi mereka tidak berjualan,” tuturnya.


Guna menghidupkan sektor perikanan di JFM,  Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Ir Sudiyanto MM menyampaikan, pihaknya akan mencoba melakukan konsep kerjasama pengelolaan JFM setelah kontrak dengan pihak ke tiga selesai pada Oktober tahun ini.

"Nanti kalau sudah selesai, kami memiliki beberapa konsep kerjasama bersama Pak Gubernur (Sri Sultan HB X, Red). Tapi saya belum bisa sampaikan karena saat ini masih dikelola pihak ke tiga," urainya.

Pengelolaan JFM yang dibangun pada tahun 2004 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, lanjutnya, diserahkan kepada Pemkot Yogyakarta.

"Kewenangan ada di Pemkot. Hanya karena secara teknis kami ikut bertanggungjawab, tentunya kami ini ingin memberikan kontribusi terhadap pengelolaannya," pungkas Sudiyanto.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved