Tribun on Focus
Sutrimo Empat Kali Sehari Tempuh Ungaran-Semarang
Istirahatnya ya waktu seperti ini, saat menunggu giliran berangkat
Penulis: yayan isro roziki | Editor: agung yulianto
Awak Bus Rapid Trans (BRT) mengaku cukup nyeman bekerja di perusahaan itu. Meski begitu, mereka mengaku pengasilannya hanya pas-pasan. Sebagai sopir, Sutrimo mendapatkan penghasilan Rp 1,4 juta per bulan.
SUTRIMO duduk santai di kursi penumpang BRT (Bus Rapid Trasnport) koridor dua jurusan Ungaran-Terboyo, Senin (3/9/2013). Saat itu, supir bus Trans Semarang tersebut sedang istirahat dan menikmati makan siang.
"Istirahatnya ya waktu seperti ini, saat menunggu giliran berangkat," ujar pria bernama lengkap Sutrimo Ramli kepada Tribun Jateng.
Sutrimo sudah menjadi supir BRT, setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengoperasikan moda transportasi untuk mengatasi kemacetan itu. "Sejak awal-awal BRT saya sudah jadi sopir di sini," kata warga Babadan, Ungaran tersebut.
Sebelumnya, Sutrimo adalah supir bus antar-kota di PO Karya Jaya sejak awal 2009. Saat di Karya Jaya, Sutrimo biasa menyupiri bus antar kota antar provinsi (AKAP). "Setelah keluar dari PO, saya pilih kerja di sini, yang rutenya relatif pendek. Maklum sudah tua," kata pria berusia 62 tahun tersebut.
Saat bekerja menjadi sopir BRT, Sutrimo mengaku lebih nyaman. Maklum, di usianya yang sudah senja, ia tidak perlu masuk tiap hari. Manajemen BRT memberlakukan pola dua hari masuk, kemudian libur sehari.
Setiap hari kerja, kakek lima cucu itu berangkat dari rumahnya sekitar pukul 05.00. "Jam 05.30 sudah siap di terminal Ungaran. Pulangnya bisa pukul 17.30, bisa juga lebih," ujarnya.
Selama 12 jam ‘nongkrong’ di belakang kemudi BRT, Sutrimo harus menempuh perjalanan empat kali Pergi-Pulang (PP) Ungaran-Semarang. Dari keringat yang dicucurkan di sepanjang rute itu, ia menerima gaji Rp 800 ribu per bulan, ditambah uang makan Rp 30 ribu per hari masuk kerja. Atau total pendapatannya Rp 1,4 juta per bulan.
"Kalau bisa nyopir full sesuai jadwal dalam sebulan, ada tambahan insentif Rp 150 ribu," jelas ayah lima anak tersebut.
Diakui Sutrimo, pendapatan itu sangat mepet untuk menghidupi keluarganya. Dia berharap, pengelola BRT dapat lebih memperhatikan kesejahteraan karyawannya.
Pramugara BRT, Aditya Suryo Prayogo, mengatakan, gaji karyawan seperti dia memang tidak besar. Untuk Pramugara, mendapat Rp 500 ribu per bulan ditambah uang makan Rp 15 ribu per hari.
"Kerjanya memang tidak setiap hari masuk. Kalau pramugara sistemnya tiga hari masuk satu hari libur," kata Aditya, yang bertugas memberitahu penumpang terkait informasi shelter yang akan disinggahi.
Dari pendapatan yang diterimanya, Aditya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. "Namun, kalau sudah berkeluarga, mungkin sangat mepet atau bahkan kurang," ujar pria yang baru tiga bulan bekerja sebagai pramugara.
Diakuinya, kerja menjadi pramugara cukup menyenangkan. Selain mendapat gaji, juga bisa berinteraksi dengan banyak orang, karena harus melayani seluruh penumpang BRT. "Selama ini baik-baik saja, tidak pernah ada pengalaman yang kurang mengenakkan dari penumpang. Tampaknya mereka puas dengan pelayanan kami," aku warga Genuk itu. (yayan ir)