Mahasiswa Gelar Aksi Tutup Mulut

Puluhan mahasiswa menggelar aksi tutup mulut di depan Gedung Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jateng, Rabu (25/9/2013).

Editor: rustam aji
Mahasiswa Gelar Aksi Tutup Mulut
TRIBUN JATENG/WAHYU SULISTIYAWAN
Sejumlah aktivis mahasiswa di Semarang menggelar aksi tutup mulut sebagai bentuk solidaritas atas dikeluarkannya teman mereka, Wahyu Dwi Pranata.

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Wahyu Sulistiyawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang menggelar aksi tutup mulut di depan Gedung Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jateng, Rabu (25/9/2013).

Aksi mereka terkait kekecewaan terhadap keputusan pihak perguruan tinggi mengeluarkan seorang mahasiswa yang bergelut dalam bidang pers kampus tentang pemberitaan yang bersikap mengkritik universitas dalam sebuah blog.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Wahyu Dwi Pranata (20), Selasa (17/9/2013) lalu, diminta mengundurkan diri dari kampus tempatnya belajar yakni di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.

Sekitar pukul 14.00, Wahyu dipanggil ke ruang Wakil Rektor. Di ruang itu kedua orangtua Wahyu sudah menunggu sambil memegang kopian dari tulisan-tulisan yang telah dibuatnya.

"Saya kaget. Saya kira kedua orangtua saya dipanggil ke kampus untuk menjelaskan kegiatan organisasi saya di kampus, sehingga terkadang mengganggu aktifitas akademi saya, tetapi ternyata saya disuruh mengundurkan diri," ujarnya kepada Tribun Jateng, Jumat (20/9/2013).

Mahasiswa jurusan Teknik Elektro itu disuruh menandatangani surat pengunduran diri karena kerap mengkritik kebijakan kampus. Tulisannya pun kerap diunggah ke situs berita online, blog maupun akun pribadinya di Kompasiana.

"Tidak banyak kesempatan untuk mengobrol kala itu. Saya langsung ditawari dua pilihan, pencemaran nama baik dan terkait UU ITE atau saya harus mengundurkan diri," sambungnya.

Mahasiswa asal Purwodadi itu mengaku tidak punya waktu untuk menunda dan menganalisis masalah tersebut terkait UU ITE. Pihak kampus langsung menyodorinya sebuah kertas bermaterai yang harus ditandatanganinya yang merupakan surat pernyataan pengunduran diri.

Surat pengunduran diri itu diperbarui pada hari Kamis (19/9) kemarin. Kedua orangtua Wahyu dan dirinya kembali dipanggil untuk datang ke kampus.

Wahyu mengatakan awal mulanya dia dianggap kritis saat menulis tentang "Banner Udinus Tipu Mahasiswa." Tulisan itu berisi tentang program mahasiswa Udinus yang kuliah selama satu tahun di Malaysia, tetapi nyatanya mahasiswa Udinus hanya kuliah selama enam bulan di Universitas Teknikal Malaysia Malaka (UTeM).

Dari tulisan yang akhirnya masuk ke situs berita online itu, Wahyu pun dipanggil oleh pihak Rektorat untuk dimintai pertanggungjawabannya tentang tulisan itu. Wahyu pun juga akan diberitahu tentang kesepakatan atau MoU tentang kerjasama antara Udinus denga UTeM, tetapi hingga kini diakui Wahyu, kesepakatan itu tidak pernah ditunjukannya.

"Setelah dipanggil, saya sempat menyesal telah menulis karena Pak Rektor mengatakan dari tulisan saya itu bisa berdampak kepada 11.000 mahasiswa Udinus dan juga alumni jika kampusnya dicap sebagai kampus penipu," jelasnya.

Wahyu tidak hanya menulis itu saja, dirinya juga aktif menulis dan mengkritik kampusnya di blog maupun kompasiana. Salah satu tulisan yang mengkritik dunia pendidikan dan paling banyak dibaca yakni "Kau Renggut Miliaran dari kami lalu Kau Perlakukan Kami Seperti Orang Miskin."

Wahyu beranggapan tulisannya merupakan bagian dari hak kebebasan mengungkapkan pendapat di negara demokrasi ini. Namun lagi-lagi pihak kampus memanggilnya dan memintanya menghapus semua tulisannya.

Dalam ingatannya juga masih jelas terekam kata-kata halus Rektor Udinus yang menginginkannya untuk kuliah di Amikom, Yogyakarta. “Kalo kamu merasa di Udinus itu tidak suka atau jelek ngomong lah. Atau kamu sekolah di Amikom saja? Nanti tak bayari,” ungkapnya meniru kata-kata Rektor Udinus.

Mahasiswa yang aktif berorganisasi, mulai dari Pers mahasiswa, PPMI DK Semarang, Penalaran, MPM, dan kegiatan-kegiatan bersama ormawa itu juga dianggap menghasut para mahasiswa. Kejadian itu berawal dari inagurasi mahasiswa baru tahun 2013, 5 September lalu.

Wahyu yang merupakan ketua MPM periode 2013/2014 mengisi acara itu dengan membaca puisi. Dia membaca puisi tentang Indonesia dan Kampusku. Tiba-tiba beberapa dosen dan staff langsung berjaga di sudut-sudut acara saat dia membaca puisi.

"Setelah saya selesai membaca puisi kemudian ada dosen yang mendekati saya dan berkata ’jane ora ngunu kuwi ogk yuk carane’ (Seharusnya tidak seperti itu caranya Yu, RED)," ujar Wahyu.

Saat menandatangani surat pengunduran diri, Rektorat Udinus mengembalikan uang kuliah, transkrip nilai, dan semua surat-surat yang dibutuhkan agar Wahyu bisa melanjutkan ke perguruan tinggi lain.

Ketika dikonfirmasi Tribun Jateng, Rektor Udinus, Dr Ir Edi Noer Sasongko menyatakan Wahyu telah mengundurkan diri dan orangtuanya juga turut menandatangani surat itu sehingga masalahnya sudah selesai.

"Sudah mengundurkan diri, disertai dengan dia minta maaf. Jadi sudah tidak usah diungkit lagi," kata Edi.

Edi juga tidak mau mengomentari tentang kebenaran tulisan-tulisan yang telah dibuat Wahyu. "Daripada ribut, ya mengundurkan diri saja. Enggak usah diungkit-ungkit lagi. Kita tutup," kata Edi. (sul/har)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved