Smart Women
Dewi Senang Lihat Desainnya Dirawat Klien
Saya tidak pernah menyesal kuliah di arsitek sampai sekarang
Penulis: herlina widhiana | Editor: agung yulianto
DEWI kecil, begitu gemar mencoretkan pensil pada sebuah kertas hingga membentuk gambar. Sang ayah yang melihat kesenangannya ini sebagai bakat yang harus ditekuni serius. Selanjutnya, ayah Dewi mendorong dia menjadi seorang arsitek.
"Kata ayah, 'kamu jadi arsitek saja karena gambarmu bagus'," ujar dia menirukan ucapan sang ayah.
Secara tidak langsung, perkataan ayah Dewi ini menjadi doktrin halus. Sejak itu, Dewi tidak memiliki cita-cita selain menjadi seorang arsitek. Hingga lulus SMA, pemilik nama lengkap Hapsari Dewi Puspitorini (30) itu hanya mencantumkan arsitek pada pilihan jurusan yang diinginkan.
"Ketika mengisi lembar pendaftaran masuk perguruan tinggi, saya hanya pilih arsitek. Pilihan kedua tidak saya isi," beber Dewi.
Kebahagiaan pun dia dapat saat menjalani kuliah di jurusan Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Apalagi, sewaktu SMA, dia tidak begitu menikmati pelajaran yang membutuhkan hafalan. "Namun, saat kuliah, saya merasa enteng dan sangat menikmati. Begitu nge-soul," aku dia.
Memasuki semester lima, Dewi memutuskan cuti kuliah. Bukan karena ingin istirahat atau bosan belajar tetapi dia ikut magang di satu konsultan arsitektur di Batam. Dewi merupakan satu-satunya mahasiswi yang diterima magang di sana. "Saya magang selama lima bulan dan dari situ saya jadi tahu gambaran dunia kerja," papar wanita berjilbab ini.
Lulus dan meraih gelar sarjana membuat Dewi makin mantap menapaki karier sebagai arsitek. Dia tidak bisa membayangkan seandainya harus bekerja di bidang lain. "Saya tidak pernah menyesal kuliah di arsitek sampai sekarang bekerja," aku dia.
Saat ini, Dewi bekerja di satu konsultan arsitektur di Semarang. Di sini, Dewi mendapatkan banyak kesempatan menangani proyek dari awal hingga akhir. Berbeda dari dua perusahaan sebelumnya yang hanya membutuhkan sedikit keterlibatannya.
Ini memberikan kebahagian tersendiri. Menurut Dewi, bukan uang yang membuat dia semakin termotivasi namun kesempatan menghasilkan sebuah desain yang menjadi kebanggaan. "Saya bisa mengaktualisasikan diri melalui desain," ungkap wanita kelahiran 9 September 1983 itu.
Sejak empat tahun lalu bergabung di konsultan arsitektur, ada satu proyek yang mampu membuatnya bangga. Yaitu, ketika dia ditunjuk sebagai koordinator proyek interior sebuah kantor media lokal. Dia harus memastikan segala hal sesuai desain awal. Termasuk, ikut meng-handle suplayer bahan-bahan bangunan. Dia harus siap berada di lapangan hingga pukul 11 malam.
"Saat itu, mengerjakan interior untuk dua lantai dan dalam waktu empat bulan harus selesai," kata Dewi.
Dari proyek itu, dia mendapatkan pelajaran mengenai proses pengerjaan desain secara langsung. Tidak hanya sebagai perancang dan melihat hasil akhir. Dia menjadi tahu selalu ada yang perlu diganti saat pelaksanaan di lapangan. "Entah karena ternyata ukuran atau materialnya mentok tidak bisa masuk. Saya juga mengatur agar produksi berjalan tepat waktu," imbuh dia.
Sebagai seorang arsitek, Dewi merasa mencapai kepuasan ketika melihat produk yang didesain sesuai imajinasinya. Lebih bahagia lagi ketika hasilnya bisa lebih bagus dari apa yang dibayangkan.
"Apalagi kalau klien melakukan maintenance bagus. Saya sangat senang melihat desain saya dirawat," tutur wanita yang tinggal di Gombel, Semarang itu. (herlina widhiana)