Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Smart Women

Shinta Mengajar Public Speaking Caleg Perempuan

Dari takdir suara saya sudah radio banget, alto dan tebal

Penulis: herlina widhiana | Editor: agung yulianto

SHINTA Ardhany sudah menunjukkan bakat pintar berbicara di depan umum sejak kecil. Semasa SD, dia sangat suka ditunjuk sebagai MC (master of ceremony) atau protokol upacara bendera. Bahkan, dia menyebut profesi sebagai penyiar merupakan sebuah takdir.

"Dari takdir suara saya sudah radio banget, alto dan tebal," ujar dia.

Lantaran bakat yang dimiliki terkait komunikasi dan menulis, selepas SMA dia melanjutkan studi ke jurusan komunikasi. Tahun 2000, dia menjajal peruntungan sebagai penyiar di tanah kelahiran, Ambarawa. "Akhirnya, saya diterima di satu radio di Ambarawa," beber wanita kelahiran 16 November itu.

Di radio tersebut, dia mendapat tugas siaran untuk program dangdut. Lantaran mengudara tengah malam, Shinta pun diharuskan menggunakan kosakata seronok. Meski sempat kaget, Shinta patuh menjalani.

Dampaknya, tetangga yang mendengar dia siaran sempat mencemooh. Orangtua pun terkena imbas. "Tetapi, saya menguatkan orangtua kalau itu sekadar pekerjaan," kata dia.

Satu tahun berlalu, dia pindah ke radio Rasika FM Semarang. Beberapa acara sempat dia handle. Sampai akhirnya, ada kejadian yang menjadi titik balik karirnya sebagai penyiar. Saat itu, terjadi kecelakaan yang menggugah jiwa jurnalistiknya.

Shinta pun tidak canggung turun ke lapangan dan melakukan live report dari lokasi kejadian. "Ternyata, berita yang saya laporkan secara langsung disukai pemimpin. Sejak itu, saya ditunjuk sebagai reporter sekaligus penyiar," terang wanita berambut cepak ini.

Sempat menjadi koresponden jaringan radio Surabaya dan Australia, kini Shinta bertugas sebagai reporter Kantor Berita Radio (KBR) 68 H Jakarta. Berbagai pengalaman yang diperoleh memperkaya kemampuan komunikasi Shinta. Dia pun mulai mengembangkan sayap di udara. "Saya menjajal mengajar penyiar radio-radio di seantero nusantara," papar Shinta.

Semula, yang dia ajarkan seputar jurnalistik radio. Lambat laun, pelajaran yang dibagikan bertambah. Lantaran menganggap radio sebagai rumah, dia ditugaskan memberi pelatihan tentang siaran. "Awalnya, materi siaran diberikan di luar jam training. Saya mengajari mereka secara gratis agar dapat menjadi penyiar yang lebih tertata," tutur dia.

Beberapa penyiar di daerah pernah merasakan ajarannya. Di antaranya, Bengkulu, Kupang, Padang, dan Papua. "Sejak 2009 sampai 2013 lalu, saya masih mengajar di radio-radio Papua," ujar alumni Jurusan Komunikasi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang itu.

Dia juga masih bolak balik di radio Sumatra untuk melakukan pembenahan program dan manajemen. Mulai tahun ini, dia mendapat peran baru. Mengajar public speaking kepada calon anggota legislatif (caleg) di pulau Sumatra.

"Permintaan itu datang dari politisi-politisi perempuan. Saya juga melatih istri-istri kepala dinas dan istri-istri camat se-Bengkulu Utara," papar dia.

Dia sadar, kegiatannya sekarang ini tidak jauh-jauh dari pengalamannya siaran. Kemampuannya tampil optimal di depan umum tidak diperoleh instan. "Dari radio, saya belajar teknik merangkai kata-kata," tutur Shinta. (Tribun Jateng cetak/herlina widhiana)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved