Pasoepati akan Hentikan Nyanyian Bernada Rasis
sesudah pertandingan semua suporter adalah kawan
Penulis: suharno | Editor: agung yulianto
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Suharno
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menginjak usia yang ke 14 tahun, kedewasaan mulai ditunjukan Pasoepati saat mendukung Persis Solo di Stadion Manahan, Solo.
Langkah dewasa yang diambil Pasoepati di antaranya tidak menyanyikan lagu rasis yang mengejek suporter atau klub lain.
Hal ini sudah terlihat saat Pasoepati mendukung tim nasional (timnas) U-19 saat menghadapi tim Pra PON Jateng di Manahan, Senin (10/2/2014) lalu.
Meski sempat sebelum laga ada tribun yang menyanyikan lagu untuk menghina suporter lain, tribun lainnya langsung menyoraki.
"Huuuuu... Ndeso, ndeso, ndeso," teriakan belasan ribu Pasoepati untuk tribun yang menyanyikan lagu-lagu rasis sebelum laga timnas U-19.
Wakil Presiden (Wapres) Ginda Ferachtriawan menerangkan akan memanggil semua dirijen di tiga tribun yakni selatan, timur serta utara untuk berkomunikasi menghentikan kasus rasisme di laga-laga mendatang.
Menurut Ginda, kunci untuk memerangi rasis saat laga berlangsung berada di tangan masing-masing dirijen.
Ginda menambahkan lagu untuk menjatuhkan mental bertanding kesebelasan lawan boleh dilakukan. Hal ini juga sering dilakukan klub-klub Eropa saat mendukung klubnya.
"Karena suporter kan pemain ke-12, tetapi jangan menyanyikan lagu rasis untuk suporter lawan. Seperti kedua kesebelasan yang menjadi musuh di lapangan tetapi sesudah pertandingan semua suporter adalah kawan," tandas Ginda.