Breaking News
Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus

Sepak Terjang Memburu Perampok, Polisi Terpaksa Begadang di Kuburan

Tidur di musala dan SPBU sudah biasa. Kami pantang pulang kalau belum

Tayang:
Editor: agung yulianto

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menangkap pelaku kriminal, tidak semudah yang dibayangkan. Petugas kepolisian harus bekerja ekstra keras untuk mengungkap kasus sekaligus menangkap penjahat.

Tidak jarang anggota kepolisian meninggalkan anak istri hingga berbulan-bulan, bahkan melakukan pengintaian di tempat-tempat yang tidak lazim, seperti pekuburan.

Peristiwa perampokan Toko Emas Kancil di Pasar Pegandon, Kabupaten Kendal, 15 Desember 2013 lalu, misalnya, memaksa tim gabungan Polda Jateng harus bekerja nonstop selama hampir dua bulan.

"Tidur di musala dan SPBU sudah biasa. Kami pantang pulang kalau belum berhasil meringkus sasaran," kata AKBP Arman Asmara, Kepala Unit Jatanras Ditreskrimum Polda Jateng kepada Tribun Jateng, Minggu (16/2/2014).

Seperti diketahui perampokan emas di Pegandon berlangsung tak lebih dari 10 menit. Anggota tim khusus dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng, AKP Fahrul, tiba di lokasi kejadian beberapa jam kemudian.

"Perjalanan dari Mapolda Jateng memerlukan waktu cukup lama. Jadi, sesampainya di sana kondisi sudah sepi. Pelaku sudah kabur ke hutan," kata Fahrul .

Fahrul bersama teman-temannya dari Unit Jatanras di bawah pimpinan AKBP Arman lalu menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP). Fahrul kemudian mengejar pelaku yang kabur ke hutan. Berjam-jam di dalam hutan, upaya tim khusus tidak membuahkan hasil berarti.

"Kami memintai keterangan saksi-saksi kemudian menemukan dua unit sepeda motor yang ditinggal oleh pelaku. Kami juga menemukan empat pasang sepatu milik pelaku. Sepatu itu penting karena belakangan dapat mengidentifikasi pelaku," kata Fahrul.

Berbekal keterangan saksi dan temuan barang bukti, Fahrul akhirnya dapat mengidentifikasi para pelaku yang telah kabur menyebar ke berbagai daerah. Fahrul bersama enam orang temannya naik dua mobil ke Lampung untuk mengejar satu pelaku.

Sementara dua tim lain ada yang memburu ke Bekasi (Jawa Barat) dan Tayu, Pati. "Saat akan pergi kami tidak pernah tahu akan berapa hari pengejaran itu.

Sesampainya di sana kami juga tidak tahu persis di mana lokasi tersangka. Akhirnya kami dapat menangkap pelaku setelah mengumpulkan keterangan sejumlah warga setempat dan dibantu oleh kepolisian Lampung," terangnya.

Tim lain yang menangkap pelaku di Tayu Pati juga mengalami tantangan cukup sulit. Mereka harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mencari dua pucuk pistol milik satu perampok emas. Pistol tersebut dikubur di tanah di daerah pegunungan di Tayu, Pati. Tim AKBP Arman akhirnya bisa tersenyum lega karena berhasil menangkap empat pelaku perampokan.

AKBP Arman menekankan kepada anggotanya untuk selalu profesional dalam menjalankan tugas. Saat melakukan perburuan, Arman menegaskan, anggotanya sudah pasti mengumpulkan barang bukti dan sejumlah saksi. Biasanya, satu atau dua anggota sudah masuk ke lingkungan di mana tersangka berada, sebelum tim lebih lengkap tiba.

Pengalaman tak kalah seru menangkap penjahat kelas kakap juga kerap dialami Kasubnit II Resmob Polrestabes Semarang, Aiptu Janadi dan anak buahnya. Pria yang ditempatkan di Unit Resmob sejak tahun 1992 ini mengisahkan timnya pernah begadang di pekuburan Dukuhseti, Tayu, Pati, semalam suntuk.

“Kebetulan areal pemakaman itu tempat yang paling memungkinkan untuk mengintai pelaku yang telah terendus keberadaannya,” terang Janadi.

Malam itu, kenang Janadi, hujan turun dengan derasnya. Beruntung, di kompleks pemakaman terdapat bangunan menyerupai pesanggrahan di makam seorang yang dituakan. Tidak mau kehujanan semalaman, mereka memanfaatkan bangunan tersebut untuk berteduh.

Selain gelap gulita dan guyuran hujan, kompleks pemakaman tersebut juga dikenal angker hingga jarang ada warga masyarakat yang berani mendekat. Sedangkan berdasarkan informasi yang diterima, pelaku kejahatan yang sedang diburunya berada tidak jauh dari pemakaman tersebut.

Setelah menunggu semalaman, akhirnya buronan yang mereka incar menampakkan diri menjelang fajar. Tidak mau buang kesempatan, empat anggota Resmob langsung menyergap buruan kasus curanmor tersebut.

Dalam menjalankan tugas, kata Janadi, anggota Resmob tidak boleh mengenal takut. Bapak dari dua anak ini menuturkan, nyanggong penjahat itu terkadang juga bergantung nasib. Jika polisi yang beruntung maka penjahatnya akan bisa ditangkap.

Tetapi bila penjahat yang beruntung maka polisi akan pulang dengan tangan kosong meski sudah nyanggong selama berhari-hari. "Jadi anggota Resmob itu yang penting kemauan keras untuk dapat mengungkap sebuah kasus," ujarnya.

Janadi mengisahkan, beberapa tahun silam menjadi korban setelah kejar-kejaran dengan pelaku kejahatan di Mranggen, Demak. Mobil yang ditumpangi oleh polisi tergelimpang kemudian menabrak pohon. "Saat itu ada anggota yang meninggal karena kecelakaan," katanya.

Polisi berbadan kekar dan rajin berpuasa itu juga menceritakan pengalamannya saat menggerebek sembilan orang perampok di sebuah hotel di Solo, beberapa waktu lalu.

Saat itu, Janadi hanya bersama tiga polisi lain menggerebek sembilan perampok yang bersembunyi di dalam dua kamar.

"Secara logika rasanya tidak masuk akal empat orang polisi dapat menangkap sembilan perampok yang membawa senjata api. Tetapi itulah kenyataannya, kami berhasil menangkap mereka. Anggota Resmob itu harus gigih, ibaratnya ditugaskan di padang pasir pun kami harus bisa bertahan hidup," tandasnya.

Janadi mengungkapkan, dia dan teman-temannya sudah terbiasa tidak tidur di rumah karena kepentingan penyelidikan dan penangkapan. Janadi cs kerap baru pulang ke rumah setelah seminggu bertugas nonstop. Mobilnya pun berisi sebuah tas berisi pakaian, keperluan shalat, dan peralatan mandi.

Tim Resmob ini siap mendapatkan panggilan sewaktu-waktu bila ada tindak kejahatan atau pelaku kejahatan sedang beraksi.

"Kemarin misalnya, saat sedang mandi saya menerima telepon yang mengabarkan ada perampokan di Kedungmundu, Tembalang. Saya pun berlari ke mobil sambil bawa handuk kemudian sesampainya di lokasi kejadian ada beberapa warga menertawakan karena saya masih memakai handuk di leher," kata Janadi menahan senyum. (Tribun Jateng cetak/Tim)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved