Smart Shopping
Penampilan Rizka Makin Modis Memakai Obi
Biasanya sih aku gunakan untuk detil pada dress
Penulis: muslimah | Editor: agung yulianto
MUNGKIN hanya sekadar tali yang melingkar di pinggang. Namun dampaknya cukup besar untuk penampilan. Karena itulah, Rizka Lutfita tak pernah melupakan memakai ikat pinggang di setiap kesempatan.
Mulai dari saat jalan santai biasa, ke acara resmi, bahkan hingga ketika ia menjadi instruktur senam. Benda itu menjadi ciri khas yang membuat Rizka terlihat lebih modis dan bergaya.
"Dari dulu aku suka ikat pinggang. Karenanya tak pernah melewatkan aksesori yang satu ini. Dulu kalau pergi ke mana-mana pasti beli ikat pinggang sebagai oleh-oleh. Namun karena sekarang koleksi sudah menumpuk, jadi aku stop dulu," kata Rizka pada Tribun Jateng, baru-baru ini.
Dari sekian banyak ikat pinggang koleksinya, mahasiswi akuntansi Universitas Pandanaran Semarang itu mengungkapkan, jenis obi termasuk yang ia favoritkan. Apalagi sekarang variasinya semakin banyak sehingga lebih mudah saat memadupadankan.
Alasan menyukai obi karena bentuknya yang lebar memberi banyak keuntungan. Sebagai misal bagi yang memiliki tubuh berisi bisa menambah kesan ramping. Manfaat lain, penampilan makin gaya, elegan dan modis.
Kesan klasik pun muncul, terutama jika ditambah aksesori penunjang seperti tas yang juga terlihat unik dan vintage. Tidak perlu menambah banyak detil lain, penampilan sudah terlihat pas untuk berbagai acara.
Rizka memiliki beberapa obi. Ia memilih warna-warna polos natural tanpa motif seperti coklat dan hitam. Sengaja agar bisa masuk dengan berbagai model pakaian. "Biasanya sih aku gunakan untuk detil pada dress," jelas Rizka.
Selain obi, koleksi ikat pinggang Rizka sekitar 50 buah. Model klasik dari bahan-bahan alam juga menjadi favoritnya. Sebagai misal ia memiliki ikat pinggang yang terbuat dari tempurung kelapa berbentuk lingkaran yang diuntai memanjang.
Kemudian ikat pingggang dari bahan mote dengan detil kerang kecil dan kayu pemanis. Model-model yang unik ini ia dapatkan saat jalan-jalan ke beberapa daerah tujuan wisata seperti Solo, Yogya dan Bali.
Rizka tak membatasi tempat ia berburu ikat pinggang. Beberapa koleksinya bahkan ia dapatkan di Pasar Johar dengan kisaran harga mulai Rp 10 ribu. Murah meriah, namun memberi dampak berbeda pada penampilan.
Untuk sementara, Rizka memilih menyetop membeli ikat pinggang karena semua koleksinya sudah cukup untuk padu padan aneka baju.
"Mudah-mudahan bisa menahan diri jika melihat yang unik. Karena kadang meski sudah memutuskan stop dulu, tapi kalau ada yang bagus dan harga bersaing, biasanya suka tidak tahan juga," imbuh Rizka. (Tribun Jateng cetak/msi)