Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Konflik Pererat Persaudaraan Muslim dan Kristiani di Jalur Gaza

Bagi Mahmud Khalaf, seorang warga Gaza, merupakan sebuah pengalaman baru nan aneh melakukan salat di bawah tatapan sebuah ikon Yesus Kristus

Tayang:
Editor: sigit widya

Bagi Mahmud Khalaf, seorang warga Gaza, merupakan sebuah pengalaman baru nan aneh melakukan salat di bawah tatapan sebuah ikon Yesus Kristus. Namun, sejak perang pecah di Gaza, ia tidak punya pilihan selain beribadah di sebuah rumah Kristiani. Di situlah, ia berlindung setelah serangan udara Israel menghantam tempat tinggalnya di Palestina utara.

"MEREKA membolehkan kami berdoa. Hal itu mengubah pandangan saya tentang orang-orang Kristiani. Saya benar-benar tidak tahu sebelumnya, tetapi mereka telah menjadi saudara kami," kata Khalaf (27 tahun), yang mengaku tidak pernah membayangkan untuk melakukan salat magrib di dalam sebuah gereja.

"Kami (orang-orang Muslim) berdoa bersama-sama tadi malam," katanya. "Di sini, cinta antara Muslim dan Kristiani telah tumbuh."

Saat memasuki halaman Gereja Saint Porphyrius di Kota Gaza, para pengunjung disambut ucapan "marhaban" (selamat datang) oleh orang-orang Kristiani. Mereka juga disambut ucapan "al-salamu aleikum" oleh sebagian besar penghuni saat ini, yaitu para pengungsi Gaza yang telah menjadikan kompleks gereja itu sebagai tempat tinggal selama hampir dua minggu terakhir.

Khalaf, yang meninggalkan rumahnya di Shaaf setelah menjadi target serangan pesawat tempur Israel, memegang tasbih sambil cemas. Namun, ia lega karena telah menemukan tempat perlindungan bersama sekitar 500 pengungsi Muslim lain. "Orang-orang Kristiani membawa kami masuk. Kami berterima kasih kepada mereka untuk itu. Merkea berpihak kepada kami," katanya.

Khalaf kini terbiasa beribadah di tempat dari sebuah agama yang asing baginya, terutama selama Ramadan tahun ini. Setiap hari, ia berkiblat ke Mekkah, membacakan ayat-ayat Alquran dan membungkukan diri, seperti yang dilakukan di masjid. Para pastor dan umat pun menghargai para tamu Muslim.

"Tentu saja, orang-orang Kristiani tidak berpuasa. Tetapi, mereka secara sengaja tidak makan di depan kami pada siang hari. Mereka tidak merokok atau minum di sekitar kami," kata Khalaf.

Namun, ia mengaku sulit untuk menjalankan perintah-perintah agama selama konflik berdarah dan tanpa pandang bulu yang telah menewaskan lebih dari 800 warga Palestina. "Saya seorang Muslim taat. Namun, saya sudah merokok selama Ramadan. Saya tidak berpuasa. Saya terlalu takut dan tegang karena perang."

                                              ***

Puasa akan berakhir saat Idul Fitri datang. Dengan pengeboman yang sedang berlangsung, ratusan orang tewas dan ribuan kehilangan tempat tinggal, kegembiraan Idul Fitri agak diredam.

"Orang Kristiani dan Muslim mungkin merayakan Idul Fitri bersama-sama di sini," kata Sabreen al-Ziyara, seorang wanita Muslim yang telah bekerja di gereja itu selama 10 tahun sebagai petugas kebersihan.

"Tahun ini bukanlah Idul Fitri, tetapi pesta para martir," katanya. Ia merujuk secara hormat kepada mereka yang telah meninggal dunia akibat perang.

Suasana ini sangatlah harmonis dan toleran. Namun, di tengah-tengah medan perang, ketegangan masih terasa. Saat persediaan makanan datang, bentrokan hampir pecah ketika para perempuan dan anak-anak mencari kantong plastik yang berisi roti dan air, yang didistribusikan setertib mungkin oleh para petugas gereja.

Jumlah Kristiani di Gaza telah berkurang menjadi sekitar 1.500 orang. Sementara populasi orang Muslim Sunni mencapai 1,7 juta orang. Komunitas Kristiani, seperti di tempat-tempat lain di Timur Tengah, telah menyusut karena konflik dan pengangguran. Namun, dalam situasi teror seperti di Gaza, rasa persaudaraan tumbuh di antara umat.

"Yesus mengatakan, kasihilah sesamamu, bukan hanya keluargamu, tetapi kolegamu, temanmu - Muslim, Syiah, Hindu, atau pun Yahudi," kata relawan Kristen Tawfiq Khader. "Kami membuka pintu untuk semua orang." (*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved