MENGENANG PAHLAWAN NASIONAL
Priyono 4 Tahun Tunggu Bendera Berkibar di Makam dr Tjipto Mangoenkoesoemo
Makam pahlawan nasional dr Tjipto Mangoenkoesoemo, di Ambarawa, Kabupaten Semarang, kurang perhatian.
Penulis: puthut dwi putranto | Editor: iswidodo
Laporan Tribun Jateng, Puthut Dwi Putranto
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN- Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Namun tak jarang perhatian untuk pahlawan masih kurang, sehingga untuk sebuah bendera saja harus menunggu selama 4 tahun.
SANG Saka kembali gagah berkibar di kawasan makam pahlawan nasional, dr Tjipto Mangoenkoesoemo, di TPU Watu Ceper, Kelurahan Kupang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Senin (11/8).
Bagi Suwarsinah (70) dan keponakannya, Priyono (55), ini menjadi momentum yang paling dinantikan. Sudah sekitar empat tahun lebih, juru kunci makam keluarga Mangoenkoesoemo tersebut mengharapkan momen seperti ini.
Terlebih sejak bendera Merah Putih dalam kondisi usang akibat lepas beberapa jahitannya dan tak lagi terpasang pada tiang bendera, yang hanya berjarak beberapa jengkal dari pusara tokoh pergerakan nasional ini.
"Akibat bendera telah rusak, maka pada pertengahan tahun 2009 lalu, kami tidak memasangnya lagi," kata Suwarsinah, saat ditemui di lingkungan TPU Watu Ceper, Ambarawa.
Diceritakan, semula sang Merah Putih terus berkibar diterpa hembusan angin di tiang bendera di dekat nisan makam dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan makam istrinya, Siti Aminah yang bernama asli Marie Vogel di lingkungan makam trah Mangoenkuoesoemo ini.
Kemudian Bendera rusak dan dirinya mengajukan penggantian bendera Merah Putih kepada Pemkab Semarang. Akhirnya, permintaan terkabulkan. Diserahkan bendera baru dari pihak Kecamatan Ambarawa.
Namun, setelah rusak kembali empat tahun lalu, bendera Merah Putih tak lagi berkibar. Dia berujar, permintaan bendera baru yang diajukan kembali kepada pihak terkait di Pemkab Semarang tak kunjung juga mendapat respon.
Tidak tersedianya tanda khusus yang menunjukkan kepada khalayak ramai tentang keberadaan makam dr Tjipto Mangoenkoesoemo, yang berada di sekitar Pasar Ambarawa ini membuat dirinya sedih. Terbesit keinginannya yang sederhana, yakni agar masyarakat mengetahui dan mengenang jika makam satu diantara tokoh penting perintis kemerdekaan Indonesia ada di Ambarawa.
Hanya ada papan petunjuk berukuran 60 x 100 sentimeter yang nyaris sulit terlihat lantaran sudah menyatu dengan lapak- lapak pedagang kaki lima (PKL) di jalur utama Ambarawa.
Ironisnya, sejak rusak sekitar empat tahun lalu, bendera Merah Putih terpasang hanya setahun sekali, saat Hari Kebangkitan Nasional. Bahkan, statusnya hanya dipinjami oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang.
"Jika peringatan hari Kebangkitan Nasional usai, bendera Merah Putih diambil kembali oleh pemiliknya," tutur Suwarsinah.
Priyono menambahkan, dirinya mengaku ikut prihatin dengan kondisi semacam ini. Dirinya pun mengapresiasi sejumlah jurnalis Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Semarang (FKWKS) yang berinisiatif memasang kembali bendera Merah Putih ini.
"Sudah cukup lama, bendera Merah Putih ini sudah tak berkibar di makam pak dokter. Kami ucapkan terimakasih kepada rekan wartawan, " ujarnya. Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong mengatakan, tak berkibarnya bendera merah Putih di makam dr Tjipto Mangoenkoesoemo ini merupakan potret kurangnya perhatian pemerintah terhadap jasa pahlawan.
Dia menilai jika hal seperti ini setidaknya tak harus Bupati saja yang dijadikan acuan. Namun, pejabat setempat sekelas camat atau lurah sebenarnya sudah bisa mengatasi.
The Hok menegaskan, keberadaan bendera merah Putih ini bukan hanya sebagai simbol penghargaan. Namun lebih sebagai bentuk penghormatan dan perhatian kepada dr Tjipto Mangoenkoesoemo.
"Bagaimana masyarakat akan belajar menghormati pahlawan yang pernah berjasa bagi bangsa dan negaranya jika pemerintahnya tak mau berupaya memberi contoh," tegas politisi PDIP ini.
Ketua FKWKS, R Budi Prasetyo, menambahkan, penyerahan bendera Merah Putih ini merupakan inisiatif para jurnalis yang merasa terpanggil melihat kondisi makam pahlawan nasional ini. Di sisi lain, momen ini kebetulan hampir dekat dengan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69. "Setidaknya kami peduli karena makam ini merupakan aset bagi pendidikan sejarah bangsa," katanya. (Puthut Dwi Putranto)