Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

SUCCESS STORY

Kisah Sukses Muhammad Hilmy Bos Jenang Kudus Mubarok

Kisah Sukses Muhammad Hilmy Bos Jenang Kudus Mubarok. Hilmy merupakan generasi ketiga.

Penulis: deni setiawan | Editor: iswidodo
tribunjateng/wahyu sulistyawan
Muhammad Hilmy Direktur Utama Mubarokfood Kudus 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS -Rasa malu campur bangga pernah menghinggapi Muhammad Hilmy saat berusaha mengembangkan jenang produksi Mubarokfood. Ini terjadi ketika 2001 direktur utama CV Mubarokfood Cipta Delicia itu berniat belajar membuat dodol sebagai varian jenang dari pewaris usaha terkenal di Garut Jawa Barat. Pilihannya, berguru di koperasi yang dipimpin Haji Ato, generasi kedua Dodol Picnic.

"Kami ingin tahu detail pembuatan dodol. Saat berkunjung, kami tidak mengaku dari Jenang Mubarok Kudus," kata Hilmy.

Saat mengawali perbincangan, Haji Ato merasa kaget atas kunjungan itu. Pasalnya, dia merasa bukan sumber yang tepat untuk menceritakan perjalanan usaha dodol yang dirintis keluarga yang kini sama terkenalnya dengan Jenang Kudus Mubarok. “Apabila ingin belajar tentang dodol, ya ke Kudus, ke Jenang Mubarok. Saya belajar dari sana,” ucap Hilmy menirukan perkataan Haji Ato.

Mendengar perkataan itu, Hilmy merasa bersalah sekaligus haru dan bangga. Merasa bersalah lantaran tidak jujur asal muasalnya, dan haru serta bangga lantaran Jenang Kudus Mubarok diakui sebagai pioner jenang yang terkenal hingga di luar Jawa Tengah. "Setelah itu, pengakuan demi pengakuan dari mereka di berbagai daerah juga saya dapat secara tidak sengaja. Mereka mengakui, home industri milik nenek saya, Hj Alawiyah merupakan yang pertama bergerak di usaha makanan. Kudus pun menjadi kota yang terkenal akan jenangnya," terang dia.

Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, itu bercerita, usaha jenang tersebut dirintis sejak 1910. Awalnya, jenang yang selesai dipanggang diletakkan di tampah dan diiris dalam berbagai ukuran, tidak seperti saat ini dimana ukuran yang digunakan seragam. Hj Alawiyah juga tidak mengemas secara mewah, hanya menggunakan plastik. "Karena jenang ini dijual di Pasar Johar, Semarang, menjadi makanan wajib sarapan pedagang maupun pekerja. Saat itu, jenang yang dijual seukuran sabun mandi," cerita Hilmy.

Setelah pengelolaannya dipegang generasi kedua, HA Sochid Mabruri, atau mulai 1940 hingga 1992, jenang dibuat variasi. Sochid juga ingin memiliki merek. Namun, usaha mematenkan lewat merek ini tidak mudah. Menurut Helmy, usaha orangtuanya sempat ditentang Kolonial Belanda yang masih berkuasa karena merek dagang dianggap dapat membangkitkan perlawanan dari pribumi. Apalagi, saat itu keluarga memilih nama "Bintang" yang dianggap mewakili ideologi Islam.

Lantaran ditolak, sang ayah memilih nama "Sinar Tiga Tiga". Merek yang juga memiliki makna, harapan dan ideologi Islam itu diajukan tahun 1946. Hilmy mengatakan, sinar memiliki makna menyinari kegelapan dan tiga tiga merupakan nomor rumah milik keluarga tersebut yang saat itu berada di Jalan Ngantenan No 33, Kudus. “Alamat itu kini berganti menjadi Jalan Sunan Muria tapi tetap nomor 33. Pusat produksi dan penjualan Jenang Kudus Mubarok tetap di sini,” jelasnya.

Melihat sejarah panjang tersebut, Hilmy tak mau menanggung malu jika usaha keluarga itu hancur. Dia terus berinovasi dan tidak berhenti mengembangkan agar usaha ini bisa diteruskan ke setiap generasi sambil terus membawa nama besar seperti nama awal, Sinar Tiga Tiga. (tribuncetak/deni setiawan)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved