ARISAN BODONG
200 Warga Tembalang Tertipu Arisan Bodong
200 Warga Tembalang Tertipu Arisan Bodong yang diduga dimotori oleh Rustina, warga Tandang Tembalang.
Penulis: muh radlis | Editor: iswidodo
Laporan Tribun Jateng, Muh Radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Penipuan berkedok arisan kembali memakan korban. Tak tanggung-tanggung, 200 orang warga Tembalang menjadi korban arisan yang diduga dimotori oleh Rustina Karin, warga Tandang, Tembalang, Semarang.
Dari 200 orang tersebut, diketahui total kerugian mencapai Rp 1 miliar. Satu diantara 200 korban yang melapor ke Polrestabes Semarang, kemarin, Jatiningsih (50), warga Tandang, Tembalang, mengatakan arisan itu dimulai sekitar Juni 2014 lalu.
Saat itu, Rustina mengumpulkan beberapa warga untuk mengikuti arisan tersebut. Lantaran dirasa tidak terlalu besar, banyak warga yang ikut dalam arisan itu. "Dia (Rustina) koordinatornya," ujar Jatiningsih saat melapor ke Polrestabes Semarang. Menurutnya, jumlah uang yang disetorkan oleh peserta arisan beragam, mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 200 ribu.
Jatiningsih sendiri telah beberapa kali menyetorkan uang. Dia mengatakan, kebanyakan warga tertarik lantaran dijanjikan akan dikembalikan dalam bentuk tabungan dan paket Lebaran. "Janjinya akan dikembalikan 15 Juli 2014," katanya.
Tiba masa pengembalian yang telah dijanjikan, koordinator arisan justru menghilang dari rumahnya. Puluhan bahkan ratusan warga menyambangi rumah terlapor namun justru terlapor tidak ada di rumahnya. Nomor ponsel milik terlapor juga tidak aktif saat dihubungi oleh korban. "Dia (terlapor) lari bawa uang," katanya.
Mewakili ratusan orang yang telah menjadi korban, Jatiningsih berharap polisi bisa membantu menemukan keberadaan terlapor.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto, mengatakan, pihaknya telah menerima laporan korban dan kasus ini masih dalam tahap penyelidikan.
Wika menghimbau kepada masyarakat agar tidak mudah dirayu oleh iming iming keuntungan besar. "Pelajari dulu, itu bisa dipercaya atau tidak. Kasus seperti ini sudah banyak memakan korban, harus lebih waspada lagi," katanya. (*)