Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

SMART WOMEN

Dicurangi, Jadi Motivasi Ajeng Anindya Raih Juara Dunia Sepatu Roda

Saya ingin menjadi juara dunia. Itulah yang membuat saya masih bertahan sampai sekarang, kata AJENG

Penulis: muslimah | Editor: iswidodo

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- "Saya ingin menjadi juara dunia. Itulah yang membuat saya masih bertahan sampai sekarang," kata pesepatu roda nasional, Ajeng Anindya Prasalita kepada Tribun Jateng, Selasa (2/8).

Di dunia sepatu roda nasional, siapa yang tak kenal dara 24 tahun ini. Ia malang melintang sejak usia enam tahun mengikuti berbagai kejuaraan. Di usia sepuluh tahun, Ajeng sudah mampu bersaing dengan para senior dan meraih medali perak PON 2000 (sepatu roda masih sebagai cabang eksibisi) di Surabaya.

Sejak itu, ia tak pernah berhenti mencetak prestasi. Torehan paling fenomenal adalah menyumbangkan dua medali emas untuk Indonesia pada SEA Games 2011.

Karena pencapaiannya, Ajeng bahkan mendapat julukan "Ratu Sepatu Roda Nasional" dari teman-teman. Ia menjadi idola anak kecil dan remaja penggila sepatu roda di Semarang sekaligus menjadi inspirasi bagi mereka.

Namun semua prestasi tersebut tidak datang begitu saja. Perlu perjuangan, pengorbanan, hingga tidak sedikit air mata yang menyertai perjalanan karier Ajeng sebagai atlet.

Pengorbanan itu tidak hanya dari sisi fisik namun juga waktu, pikiran dan tentu saja dana. Bayangkan saja, sepasang sepatu (tanpa roda) yang Ajeng pakai saat ini berharga Rp 15 juta. Sementara, harga sepasang roda mencapai Rp 2,5 juta dan aus dalam 1,5 bulan pemakaian.

Meski sudah menjadi atlet, bukan berarti Ajeng tidak melalui ritual penyesuaian dengan sepatu. Setidaknya, ia memerlukan waktu lebih dari tiga bulan hingga merasa nyaman menggunakan alas kaki yang membantu meluncur itu. Dan selama itu, setiap kali latihan atau bertanding, ia akan merasakan kakinya sangat sakit hingga mati rasa. "Karena sepatu menekan kaki sangat kuat. Otot-otot saya seolah tertusuk. Setiap atlet sepatu roda pasti merasakan hal itu," jelas Ajeng.

Agar tetap berpretasi, Ajeng yang tercatat sebagai PNS di Dinas Pemuda dan Olahraha Provinsi Jateng harus pintar membagi waktu antara latihan dan bekerja. Jadilah, setiap hari dia berlatih mulai pukul 04.30, saat banyak orang masih terlelap di bawah selimut dan udara masih dingin berembun.

Latihan kembali berlanjut setiap pukul 14.00, manakala matahari Kota Semarang bersinar sangat terik. Ajeng dan rekan-rekan atlet lain rela mengayuh sepatu roda di atas lintasan Jatidiri sambil mengusap peluh.
Sepanjang berkarier menjadi atlet, berkali-kali Ajeng mengalami cedera, dari yang ringan hingga berat. Kakinya tercatat dua kali retak. Terakhir, pada 2013 lalu Ajeng mengalami patah tangan hingga perlu waktu berbulan-bulan untuk proses penyembuhan.

"Menjadi atlet harus siap menghadapi segala risiko. Termasuk, dicurangi saat perlombaan berlangsung," tegas atlet yang sejak 2004 tak pernah luput menyumbang medali emas untuk Jateng di gelaran PON.

Ajeng bahkan pernah dicurangi saat mengikuti kejuaraan dunia di Cina beberapa waktu lalu. Waktu itu, dara kelahiran 12 Juli 1990 tersebut turun di nomor 10 ribu eliminasi dan hanya empat orang yang tersisa di lintasan. Tiga lainnya, berasal dari Taiwan dan Korea, serta pernah menyandang predikat sebagai juara dunia. Ajeng yang semestinya bisa finish paling tidak di posisi tiga besar harus puas di peringkat keempat. Kecurangan panitia membuat dia tereliminasi di urutan buntut.

Bukannya kecewa, Ajeng justru menganggap itu sebagai penyemangat. Ia yakin, suatu ketika, bisa menuntaskan harapan menjadi juara dunia. "Saya pernah bersaing dengan para juara dunia dan ternyata saya mampu. Itulah yang menjadi impian saya sekarang. Juara dunia," tandas Ajeng. (tribuncetak/muslimah)

Nama: Ajeng Anindya Prasalita
Lahir: Semarang, 12 Juli 1990
Pendidikan: Teknik Arsitek Undip
Ayah: Hadi Sudjadi
Ibu: Tisnaningsih

PRESTASI

2 emas Seagames 2011 -10 ribu point to point -5 ribu eliminasi
2 emas PON 2004/ Palembang -1500 eliminasi -3 ribu point to point
1 emas PON 2008/ Kaltim -10 ribu point to point
1 emas PON 2012/ Riau 10 ribu point to point

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved