AGENDA
Fakultas Pertanian UMK Kudus Akan Gelar Round Table Discussion
digelarnya round table discussion ini antara lain untuk membangun kesadaran masyarakat akan arti pentingnya rekayasa produk agro industri
Penulis: m zaenal arifin | Editor: rustam aji
Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus (UMK) bekerjasama dengan Rumah Sehat Griya Balur Muria (GBM) akan menggelar diskusi round table discussion bertajuk "Optimalisasi Potensi Vegetasi Lokal, Dalam Rangka Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Obat-obatan" di Aula Masjid Darul Ilmi UMK Kudus, Sabtu (27/9/2014) mendatang.
Mengusung sub tema "Kontribusi Science dan Teknologi dalam Pengembangan dan Peningkatan Nilai Tambah Produk-produk Pertanian dan Industri Agro untuk Meningkatkan Nilai Tawar Produk-produk Lokal", para pakar pertanian telah siap menjadi narasumber dalam kegiatan ini.
Para pakar itu adalah Prof Sutiman Bambang Sumitro MS. DSc (pakar nano-biologi, Guru Besar Universitas Brawijaya Malang), Dr. Baltazar Thomy W. (pakar antropologi tanaman obat dan farmakologi serta konsultan Balai Penelitian Tanaman Obat Provinsi Jawa Timur), Prof. Budi Widianarko M.Sc (pakar toksikologi pangan dan ilmu lingkungan - Rektor Unika Soegijapranoto Semarang), serta Ir. Hadi Supriyo MP (pakar agronomi dan Dekan Fakultas Pertanian UMK).
Ketua panitia, Supari, mengutarakan, digelarnya round table discussion ini antara lain untuk membangun kesadaran masyarakat akan arti pentingnya rekayasa produk agro industri dalam meningkatkan kemandirian pangan.
"Selain itu, membuka peluang usaha di bidang pertanian dan tanaman obat, membangun jejaring kerjasama antar lembaga serta instansi terkait, dan pada akhirnya diharapkan ada tindak lanjut di tataran praksis yang bisa diimplementasikan langsung, baik oleh pegiat maupun akademisi," katanya, Minggu (21/9/2014).
Supari menuturkan, peserta diskusi bebas dari kalangan manapun. Bahkan, warga umum pun diperbolehkan mengikuti diskusi ini. Dia menambahkan, tidak ada pungutan kontribusi apa pun jika peserta ingin mengikuti diskusi.
"Semakin banyak peserta yang ikut, semakin baik. Karena, kalau banyak peserta maka semakin banyak pula yang mendapatkan pemahaman terkait optimalisasi potensi lokal dalam menjaga kedaulatan pangan ini," tandasnya. (*)