tribun community

Bukan Pemburu Hantu, Komunitas Semarangker Suka Blusukan Di Tempat Angker

Bukan Pemburu Hantu namun Komunitas Semarangker Suka Blusukan Di Tempat Angker, buktikan mitos yang menyeramkan

Bukan Pemburu Hantu, Komunitas Semarangker Suka Blusukan Di Tempat Angker
tribunjateng/hermawana handaka
KOMUNITAS SEMARANGANGKER 

Laporan Tribun Jateng, Muhamad alfi/Muslimah

TRIBUNJATENG.COM - Lewat di lokasi yang dianggap angker tak membuat Hans lari. Malahan, dia memotret dan mengunggah foto lokasi tersebut ke Facebook komunitas tempat dia bergabung untuk menggugah rasa penasaran anggota.

Perjalanan ke Salatiga bersama seorang rekan beberapa waktu lalu mempertemukan Handoko dengan sebuah gua di pinggir jalan di Kawasan Kopeng, Salatiga. Secara spontan, pria kelahiran Temanggung, 8 Mei 1983 ini memarkirkan motor dan mengajak rekannya menghampiri gua.

Tangan kanan pria yang akrab disapa Hans itu menggenggam ke arah depan. Sementara tangan kiri memegang smartphone dan bersiap membidik objek yang ada di depan. Jepret. Foto tangan Hans yang dihiasi gelang bertuliskan Semarangker dan mulut gua yang ditumbuhi lumut di sekelilingnya diunggah di grup Facebook Kedai Semarangker saat itu juga.

Beragam komentar dari para pencinta jelajah malam yang tergabung dalam Komunitas Semarangker langsung memenuhi dinding tempat foto tersebut diunggah. "Kebiasaan anggota Semarangker saat berkunjung ke suatu tempat, entah itu pulang kampung, ke tempat kegiatan karena pekerjaan, atau sedang jalan-jalan, adalah menanyakan letak tempat yang dianggap angker di daerah tersebut," ujar Hans.

Selain ingin mengunjungi, dia tertantang membuktikan mitos yang berkembang terkait lokasi itu. Apakah benar suasana mistis hadir ataukah hanya cerita yang dibuat penduduk sekitar. "Nah, di dalam gua di kawasan Kopeng itu saya masuk dan menemukan sebuah makam. Saat itu memang siang dan tidak ada kejadian apa-apa. Saya share ke grup dan mengabarkan spot menarik jika suatu saat Semarangker berkunjung ke Kopeng," jelas Hans.

Semarangker merupakan komunitas yang memfokuskan kegiatan menjelajahi tempat-tempat yang disebut angker oleh masyarakat. Namun, mereka membantah sebagai komunitas pemburu hantu. Anggota komunitas ini hanya ingin membuktikan ketakutan dan berusaha menghadapi perasaan yang memacu adrenalin tersebut.

Kegiatan Semarangker diutamakan di Kota Semarang. Menurut Hans, temuan lokasi angker dari anggota turut mengundang rasa penasaran anggota lain untuk menguak. "Tempat-tempat baru itu biasanya digunakan sebagai lokasi jelajah malam internal anggota," imbuh Hans.

Sehari-hari, Hans bertugas menjaga markas Semarangker di Kedang Semarangker kawasan Pasar Simongan, Kota Semarang. Baginya, Semarangker merupakan keluarga baru yang memberi pengalaman jelajah malam dan kegiatan sosial serta alam. "Di markas, ide-ide kreatif juga sering dihasilkan. Mulai membuat kedai, bikin suvenir Semarangker, dan properti unik. Guyub dan kompak, itu yang saya sukai dari komunitas ini," ungkap Hans.  (bersambung)

Penulis: muslimah
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved