Tribun Community

Semarglo Community Mewadahi Para Pecinta Batu Mulia

Semarglo Community Mewadahi Para Pecinta Batu Mulia

Semarglo Community Mewadahi Para Pecinta Batu Mulia
tribunjateng/m alfi mahsun
Semarglo Community Mewadahi Para Pecinta Batu Mulia 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Semarang Gems Love (Semarglo) Community sangat berarti bagi Koh Liyong. Selain bisa berbagi informasi, komunitas ini memperluas jaringan yang menguntungkan bisnis jual beli batu mulia.

Mengenakan celana jeans tiga perempat dipadu polo shirt, Christian Anggata berjalan santai menyapa rekan-rekannya yang lebih dulu berkumpul di Cafe Bodjong, Pujasera Mal Sri Ratu Jalan Pemuda, Kota Semarang. Di pundak kiri, lelaki yang akrab di sapa Koh Liyong itu membawa tas pinggang tempat dia menyimpan batu mulia.

Sembari duduk mengobrol, warga Plampitan, Kota Semarang, itu mengeluarkan batu mulia jenis batu akik berwarna hijau. Dia mengatakan, batu akik tersebut merupakank akik Garut yang saat ini tengah digandrungi pecinta batu akik. "Batu akik memang diminati lagi para pencinta Gems (batu mulia) setelah booming majalah Gems Stone di awal 2013. Saya, bisa dibilang, pemain lama. 25 tahun saya suka batu mulia khususnya akik," cerita Koh Liyong ramah.

Koh Liyong tak sendiri. Teman-teman yang ditemui juga memiliki hobi sama. Bahkan, mereka membentuk Semarang Gems Love (Semarglo) Community sebagai wadah. Setiap hari, mereka menggelar pertemuan di pujasera tersebut untuk sharing mengenai batu mulia. Tak hanya akik, permata dan batu mulia yang sering menjadi hiasan juga menjadi topik pembicaraan. Hanya, pembahasan akik lebih mendominasi lantaran saat ini batu mulia itu tengah digemari.

Pria yang sehari-hari membuka usaha water treatment itu mengatakan, menjadi seorang pencinta batu mulia yang ahli butuh pengalaman. "Kasarannya, semakin sering ketipu akan semakin ahli. Karena akan tahu mana yang bagus dan tidak. Namun, hal itu tentu tidak diinginkan seseorang. Paling aman, membentuk komunitas semacam ini," lanjut Koh Liyong

Dua puluh lima tahun lalu, saat dia mulai terjun di hobi ini, Koh Liyong berkali-kali kena tipu. Dia belum mahir mengecek batu akik dari serat dan warna. Padahal, mengetahui yang bagus dan tidak cukup menggunakan senter sebagai penerang.

Harga batu mulia memang tidak bisa diduga. Pernah, Koh Liyong menjual batu akik secara murah Rp 2 jutaan tapi dijual lagi oleh pembeli hingga Rp 6 Jutaan. "Harga batu mulia memang naik tiap waktu. Seperti investasi kalau bisa dibilang," ujar Koh Liyong.

Sebagai profesional, Koh Liyong memegang teguh kepercayaan teman maupun pembeli batu mulia. "Jadi kolektor dan pedagang batu mulia itu jangan suka menipu. Jika kita sudah sangat dipercaya, batu mulia yang di tangan orang harganya standar, di tangan kita bisa lebih mahal. Dan, jaringan ikut komunitas sangat bermanfaat bagi saya," ungkap Koh Liyong. (muhamad alfi m/muslimah)

Penulis: muslimah
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved