Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

SUCCESS STORY

Dulu Minder Karena Difabel, Sekarang Sukiyat Sukses Membesarkan Kiat Motor

Dulu Minder Karena Difabel, Sekarang Sukiyat Sukses Membesarkan Kiat Motor, yaitu cat oven aand body repiar mobil.

Penulis: deni setiawan | Editor: iswidodo

TRIBUNJATENG.COM - Memiliki  kaki (sebelah kiri) yang tidak sempurna akibat penyakit polio membuat Sukiyat minder dan merasa dikucilkan lingkungan. Apalagi, keinginan menggeluti dunia otomotif kandas karena ditolak di sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Semangat menggapai impian muncul setelah perjalanan panjang di dunia kerja dijalani. Ketekunannya membuahkan hasil bengkel bodi dan finishing mobil Kiat Motor di Jalan Raya Yogya-Solo Km 4, Klaten.

Di bengkel ini pula, Sukiyat menjadi bidan mobil Esemka, mobil rakitan siswa SMK. Berikut penuturan pemilik Kiat Motor Sukiyat kepada wartawan Tribun Jateng Deni Setiawan dan Wahyu Sulistiyawan terkait perjalanan karir dan usahanya.

Apa yang membuat Anda memilih terjun di dunia otomotif?
Semasa muda, saya akrab dengan otomotif. Saya senang utak-atik sepeda motor sebagai pelampiasan rasa kecewa dikucilkan. Di jalan, saya mengendarai motor tanpa lampu, bahkan rem. Saya kerap ugal-ugalan. Tujuannya, jatuh, meninggal dunia dan terkenal. Apabila menang balap liar, uang digunakan untuk foya-foya.

Tapi, tidak pernah terjadi apa-apa. Sampai akhirnya, saya sadar dan termotivasi membangun kepercayaan diri lepas dari semua tekanan itu. Memang tidak mudah, berkali-kali saya gagal mewujudkan impian.

Tapi, di balik semua pengalaman itu, banyak hikmat. Saya jalani semua cobaan dan pekerjaan berat itu demi meyakinkan diri saya mampu membangun dan menggapai impian. Karena itu, saya tidak pernah malu jika sebelumnya pernah menjadi buruh di konveksi, pekerja cadangan di bengkel mobil, bahkan menjadi tukang tambal ban. Semua itu ada hikmahnya. Toh, saya bisa wujudkan mimpi.

Bagaimana Anda mengatasi rasa minder sebagai difabel?
Minder secara nyata saya rasakan. Bahkan, orangtua saya pun merasa malu. Ketika orangtua ada hajat, saya disembunyikan. Tidak hanya keluarga, lingkungan sekitar juga mengucilkan. Itu membuat saya sempat putus asa. Namun, akhirnya saya menyadari, rasa minder tidak bisa mengubah semuanya menjadi baik, termasuk mewujudkan masa depan yang dicita-citakan.

Saya mencoba melawan rasa minder lewat pembuktian diri. Sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, saya tidak mau hanya mengandalkan apa yang diberikan orangtua. Difabel itu bukan alasan untuk manja, apalagi minta dikasihani. Saya ingin seperti ayam, selalu bersemangat dan tepat waktu menjalankan rutinitas. Berbagai ide yang terus muncul pun saya kerjakan.

Apa alasan Anda memilih spesialisasi cat oven dan body repair?
Spesialisasi Kiat Motor adalah seni. Saya mengetahui teknik mencampur warna dari orangtua saat membantu mereka menjalankan bisnis kain tenun di Klaten. Berbekal pengetahuan ini, saya putuskan fokus menangani pengecetan dan body repair yang membutuhkan perpaduan ilmu perbengkelan dan seni. Selain itu, ada tantangannya. Cat dan bodi memengaruhi harga mobil.

Cat dan bodi mobil juga mampu menunjukkan karakter pemilik. Secara teknis, di dunia otomotif, ahli mesin belum tentu bisa mengecat maupun mengutak-atik body. Tetapi, bisa body repair secara tidak langsung tahu mesin, instalasi hingga interior mobil tersebut. Ibarat di dunia kesehatan, cat oven dan body repair adalah kegiatan bedah. (tribunjateng/deny setiawan/sulis)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved