Poltekkes Semarang Buka Program Magister Terapan Kesehatan

Poltekkes Semarang Buka Program Magister Terapan Kesehatan

Poltekkes Semarang Buka Program Magister Terapan Kesehatan
ist
Poltekkes Semarang Buka Program Magister Terapan Kesehatan 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Poltekkes Kemenkes Semarang membuka program studi baru Magister Terapan Kesehatan. Program ini adalah kelas pasca sarjana untuk sarjana sains terapan Kebidanan, Keperawatan dan Radiologi.

Ditemui di kantornya Jalan Tirto Agung Raya, Semarang, Pembantu Direktur Politekes Kemenkes Semarang, Supriyana menjelaskan institusinya adalah yang pertama kali diberikan izin untuk menyelenggarakan program Magister Terapan Kesehatan.

"Keberadaan program ini didasarkan dari kebutuhan Kemenkes untuk pengembangan tenaga Bidan, Perawat dan Radiografer dengan kualifikasi Magister Terapan sebagai pemenuh kebutuhan dosen, peneliti, manajer, di bidang kesehatan," ujarnya kepada para awak media yang hadir, Rabu (28/1).

Untuk angkatan pertama pendaftaran dibuka 12-30 Januari 2015 secara online di website http://poltekkes-smg.ac.Id. Kuota yang dibutuhkan untuk angkatan pertama adalah 60 orang kebidanan, 20 orang perawat, dan 15 orang radiografi.

"Jumlah itu sudah disesuaikan dan kebutuhan dari Kemenkes, mereka akan menjalani tes tertulis dan wawancara, hanya yang memenuhi standar yang masuk jadi prinsip kami bukan memenuhi kuota tersebut," jelasnya.

Setiap mahasiswa akan menempuh 72 SKS dan wajib membuat jurnal ilmiah internasional. Supriyana menjelaskan kebutuhan Bidan memiliki kuota yang lebih banyak karena memang disesuaikan dengan data di kemenkes sendiri.

"Di Indonesia angka kematian ibu tahun 2014 kemarin mencapai 228 per 100.000 kelahiran, sedangkan angka kematian anak 15 per 1.000 kelahiran. Ini kategorinya tinggi sekali, di Semarang sendiri ada 37 kematian ibu dan bayi tahun lalu," jelasnya.

Dia mencontohkan Semarang memiliki bidan di setiap desanya, klinik dan rumah bersalin juga banyak tersebar namun angka kematian bayi masih juga tinggi.

"Dari situ nanti diharapkan banyak peneliti dari kebidanan bisa mengungkap apa penyebabnya, oleh karena itu kuota dari kebidanan cukup tinggi dibanding yang lain itu merupakan salah satu alasannya," pungkasnya. (*)

Penulis: rival al-manaf
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved