LIPUTAN KHUSUS
Pembeli Pilih Pakaian Bekas Karena Harga Terjangkau
Pembeli Pilih Pakaian Bekas Karena Harga Terjangkau
TRIBUNJATENG.COM - Faiz Faizin (28), warga Kebondalem, Kendal mengaku sejak lama menjadi pelanggan pakaian bekas impor, karena harga terjangkau. "Model pakaian awul-awul jarang orang yang punya. Dan, modelnya selalu bagus, apalagi harganya murah," jelasnya pada Tribun Jateng, Senin (9/2).
Faiz menerangkan, dia memilih untuk membeli pakaian awul-awul terkait model pakaian yang jarang ia jumpai. Model yang ia beli pasti berbeda dengan desain pakaian yang ia temukan di masyarakat. "Modelnya beda, jadi ga akan sama dengan yang ada di pasaran. Belum lagi, modelnya lebih bagus," lanjutnya.
Hal senada diungkapkan oleh Wahyudi (40), warga Brangsong. Ia lebih memilih untuk membeli pakaian awul-awul lantaran harga pakaian lebih murah. "Misalnya nih, jaket seharga Rp 50.000. Dan, harga itu bisa ditawar lebih murah. Jaket ini saya beli seharga Rp 40.000," ujarnya sembari melihatkan jaket hitam merek luar negeri.
Baik Faiz maupun Wahyudi mengetahui pemberitaan tentang adanya bakteri di awul-awul, namun mereka tahu cara mengatasinya. "Dicuci dulu saja pakai air panas. Apalagi sekarang ada detergen yang mampu mengangkat bakteri," ujar Faiz.
Pedagang awul-awul, Heriyanto menerangkan bahwa pakaian impor ia beli di Bandung. Pakaian ini berasal dari berbagai negara, misalnya Korea atau Jepang.
Heriyanto menerangkan, harga pakaian yang ia jual lebih miring dibandingkan pakaian yang diproduksi di berbagai daerah di Indonesia. Misalnya, harga celana panjang, sekitar Rp 20.000 - Rp 40.000, harga pakaian dari Rp 10.000 - Rp 15.000 dan harga jaket dari Rp 20.000 - Rp 50.000. "Dalam sehari, omzet sekitar Rp 200.000 hingga Rp 300.000," lanjut warga Palembang ini.
Pedagang yang menjual di daerah Ketapang, Kendal ini mengaku tak semua pakaian yang ia jual dicuci. "Ada setengah yang dicuci. Setengahnya tidak dicuci. Biasanya, pakaian yang dicuci yang masih bagus. Kalau yang tidak bagus dijual ke kampung-kampung, ada yang dipakai untuk serbet," terangnya.
Pada Senin (9/2), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kendal melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pedagang awul-awul. Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kendal, Heru Yuniarso mengimbau pada pedagang awul-awul untuk tidak lagi menjual pakaian bekas iimpor. "Pakaian yang sudah ada untuk dicuci dan disortir," terangnya.
Hal senada diungkapkan Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Kendal, Antin K Wijayanti. "Pedagang membeli dengan modal, dan masyarakat meminati juga karena harga murah," ungkapnya.
Heru menambahkan, adanya pakaian bekas yang diimpor ini bakal mematikan produksi pakaian produk dalam negeri. (tribunjateng/har/ysn)