Liputan Khusus

Nyonya Meneer Seperti Rumah Kami Sendiri

Ratusan karyawan perusahaan jamu legendaris PT Nyonya Meneer menggelar aksi damai di depan Pengadilan Niaga Semarang, Senin (9/3).

Nyonya Meneer Seperti Rumah Kami Sendiri
tribunjateng/m sofri kurniawan
Para Karyawan PT Nyonya Meneer Demo Di depan Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Senin (9/3/2015). Mereka mendesak agar PT Nyonya Meneer tidak dipailitkan 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ratusan karyawan perusahaan jamu legendaris PT Nyonya Meneer menggelar aksi damai di depan Pengadilan Niaga Semarang, Senin (9/3). Ratusan buruh datang bersama-sama dari perusahaannya yang terletak di Kaligawe, Kota Semarang.

Mereka masih mengenakan seragam buruh yang bertuliskan "PT Nyonya Meneer" di bagian dada. Sesampainya di depan pengadilan, para buruh langsung menggelar orasi menggunakan pengeras suara. Orasi dilakukan secara bergantian oleh para buruh yang didampingi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Semarang.

Selain itu, para buruh juga membawa berbagai poster yang diantaranya bertuliskan "Nyonya Meneer tidak layak dipailitkan", "Pikirkan nasib 13.000 buruh", "Produksi dan penjualan masih berjalan, kok mau dipailitkan, ada apa ya?", "Mempailitkan berarti mendzolimi kami/buruh", dan banyak poster lainnya.

Seorang buruh yang ikut dalam aksi, Mahmudah (52) mengatakan, dirinya sudah bekerja di PT Nyonya Meneer selama lebih dari 25 tahun. Baginya, perusahaan jamu tempatnya bekerja itu sudah seperti rumahnya sendiri. "Saya kerja di sana (PT Nyonya Meneer) sudah lama. Kami sudah seperti keluarga sendiri. Makanya saya tidak mau kalau perusahaan sampai dinyatakan pailit," katanya.

Mahmudah yang sudah menjadi janda itu mengaku menggantungkan hidup dari pekerjaannya sebagai buruh di perusahaan jamu itu. Usianya yang sudah berkepala lima, sudah tidak mungkin bekerja di perusahaan lain jika harus berhenti dari PT Nyonya Meneer.

"Jangan sampai pailit. Suami sudah meninggal, penghasilan satu-satunya dari situ. Saya sudah tua dan usia tidak produktif, nanti saya mau makan apa," ujarnya.

Sebelumnya, PT Nata Meridian Investara (NMI) yang merupakan distributor Nyonya Meneer mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Niaga Semarang terhadap PT Nyonya Meneer atas kewajiban pembayaran utang sebesar Rp 89 miliar. Dari hasil persidangan, terungkap total kewajiban pembayaran utang yang harus dipenuhi PT Nyonya Meneer terhadap para kreditornya mencapai Rp 267 miliar. Jika Nyonya Meneer tak sanggup membayar utang maka perusahaan jamu yang berdiri 1919 itu terancam dipailitkan.
Mahmudah bersama ratusan buruh lainnya berharap, hakim pemeriksa dan pengawas tidak menjatuhkan putusan pailit terhadap perusahaan tersebut. Dia meminta hakim memberikan putusan yang adil.

Hak karyawan

Dalam aksi tersebut, seorang orator yang juga merupakan karyawan PT Nyonya Meneer, Kurniawan meminta kepada hakim pengawas agar tidak memailitkan perusahaan jamu tersebut. "Kepada hakim pengawas, perhatikan nasib kami. Kami mohon agar tidak dipailitkan. Karena kami bekerja dan mencari makan dari perusahaan ini," kata Kurniawan, dalam orasinya.

Ia menuturkan, kalau PT Nyonya Meneer terpaksa dinyatakan pailit, maka hak buruh yang harus diutamakan. Diantaranya seperti gaji dan pesangon.

Halaman
12
Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved