Breaking News:

Alkohol Jadi Salah Satu Pemicu Tindak Kriminalitas

AKBP I Nengah WD, Kasat Binmas Polrestabes Semarang, mengatakan, minuman beralkohol menjadi satu pemicu kriminalitas, khususnya tindak kekerasan.

tribunjateng/dok
FOTO DOKUMEN - Pemusnahan minuman keras (bb). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - AKBP I Nengah WD, Kasat Binmas Polrestabes Semarang, mengatakan, minuman beralkohol menjadi satu pemicu kriminalitas, khususnya tindak kekerasan. Tidak bisa dipungkiri, banyak pelaku kejahatan yang saat dimintai keterangan mengaku lebih dulu minum minuman keras sebelum beraksi. Bagi mereka, hal itu bisa menambah kepercayaan diri muaupun meningkatkan kejantanan.

Menurut dia, polisi sebagai petugas penegak hukum menyambut baik kebijakan itu. Minuman beralkohol selama ini juga menjadi satu pemicu tindak kenakalan remaja, seperti perkelahian dan kekerasan seksual. Jenis minuman beralkohol yang banyak beredar adalah bir.

"Meski minuman beralkohol golongan A tidak membuat mabuk, keberadaannya cukup mengkhawatirkan generasi muda di Indonesia. Sasaran peraturan itu tidak hanya untuk menekan pelaku kejahatan. Tetapi sebagai bentuk antisipasi, karena yang datang ke minimarket tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja," katanya.

Nengah menyatakan, kalau anak-anak itu membeli sebagai bentuk sekedar coba-coba, lama kelamaan bisa meningkat untuk mencicipi minuman keras golongan yang tingkat alkoholnya lebih tinggi seperti Red Lebel, Vodka, Jack Daniel's, dan lain sebagainya.

"Meski hanya mencoba, minuman beralkohol golongan A itu juga memiliki zat adiktif yang membuat penggunanya ketagihan untuk terus mencoba. Bahkan, jika kondisi itu diteruskan, user baru itu lama kelamaan bisa bergeser mengunakan obat-obatan terlarang, seperti Dextro dan narkoba jenis lain," paparnya.

Adapun, Ketua Pemuda Muhammadiyah, AM Jumai mengaku prihatin dengan maraknya pesta minuman keras di berbagai tempat. Bahkan, hampir menjadi tradisi karena tiap hajatan pasti disuguhkan minuman keras.

"Produk minuman beralkohol berapapun kadarnya yang dijual di minimarket harus dilarang. Kita semua harus sadar dan melek bahwa minuman keras adalah kontributor kejahatan nomor satu yang harus disikapi serius. Jangan hanya keuntungan sesaat yang dikejar, tetapi bahaya membunuh generasi selalu berlanjut," paparnya.

Jumai menganggap serius fenomena itu, karena anak di bawah umur saat ini mudah mendapatkan minuman beralkohol di minimarket dan swalayan yang tersebar hingga ke daerah pinggiran. Ia berharap regulasi yang diterapkan nantinya dapat meminimalisir peredaran minuman beralkohol. Petugas Disperindag harus tanggap dengan melakukan pegawasan rutin.

"Larangan penjualan miniman beralkohol di minimarket itu adalah langkah positif, karena dapat mengurangi tindakan anarkis, mengingat biasanya pelaku berbuat onar setelah minum alkohol," tandasnya. (dni)

Penulis: dini
Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved