Selasa, 9 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Band Santet, Konsisten Angkat Kejawen lewat Lagu Metal

Menandai hari jadi yang ke-18, Band Santet menggelar pentas musik Purwokerto Hitam XI di lapangan tenis Universitas Wijayakusuma (Unwiku), Minggu

Tayang:
Penulis: abdul arif | Editor: rustam aji
Personel Band Santet saat jumpa pers Purwokerto Hitam XI 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Abdul Arif

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Menandai hari jadi yang ke-18, Band Santet menggelar pentas musik Purwokerto Hitam XI di lapangan tenis Universitas Wijayakusuma (Unwiku), Minggu (17/5/2015). Pagelaran musik bertajuk "Milad 18th Santet Bertauziah 666" tersebut juga diramaikan oleh sejumlah band metal dari berbagai daerah.

Project officer Purwokerto Hitam XI, Iwan Budiarto mengatakan gelaran kali ini merupakan sekuel lanjutan sejak 2001. Purwokerto Hitam, kata dia, kali pertama digelar di gedung kesenian Soetedjo Purwokerto. Pagelaran ini tak lepas dari kiprah grup band legendaris Purwokerto beraliran black metal bernama Santet.

Budi Bawono alias Butet sang leader sekaligus pendiri Band Santet merasa besyukur. Hingga kini band yang digawanginya masih tetap eksis. Meski sebelumnya sempat vakum.

Lelaki kelahiran Jakarta, 16 Februari 1974 itu mengatakan, kali pertama main musik memakai nama Santet pada bulan Mei 1997. Saat itu dia bermain bersama Rudi, Sapto, Abdi, Anggi dan Tuwil.

Budi mengisahkan, pemakaian nama Santet terinspirasi saat masih kuliah di Purwokerto pada 1992. Saat itu dua sering menyendiri di sawah. Suatu ketika dia melihat bola api pada malam hari. Tepatnya, pukul 01.00 Wib dini hari. Sejak itu dia ingin punya band dengan nama yang serem.

"Disamping serem, nama itu juga gampang diingat," katanya.

Nama tersebut bahkan sempat dikhawatirkan saat mencuat kasus Santet di Banyuwangi. Saat itu, Band Santet manggung di TVRI Jakarta. Lantaran dikhawatirkan terjadi pergolakan, akhirnya Karni Ilyas meminta pakai nama lain. Santet pun terpaksa manggung pakai nama "Legion" untuk meramaikan event Go Rock tahun 2001 itu.

Sejak awal berdiri Santet terus melahirkan karya-karyanya. Ada enam album yang sudah dirilis hingga kini. Pada akhir 1997, Santet menciptakan album pertama berjudul "Creatures of Darkness." Album tersebut merupakan hasil rekaman di Yogyakarta. Ada sepuluh lagu yang diusung.

Budi menyebutkan, album pertamanya itu hanya diproduksi sebanyak 250 keping kaset pita. Kaset hanya dijual secara lokal. Beberapa sengaja ditargetkan dengan musisi luar negeri. Seperti ke Cheko, Jepang , Slovakia, Polandia dan Malaysia.

"Tahun 1998 album kami mulai dirilis label Solo. Labelnya Holy Flash record. Album diproduksi sampai 3000 kaset. Gabubgan dengan Band Yogyakarta Drosophila. Judul albumnya 'Mahar Hutan Larangan'," katanya.

Album ketiga dirilis pada 2000 berjudul "Enthrond The Black Domain". Saat itu posisi drumernya digantikan Julius. Karakter tempatnya lebih cepat. Ada delapan lagu yang dipublikasikan.

Tahun 2002 menyusul album keempat berjudul "Babad Kultus Sihir." Album kelima menyusul pada tahun berikutnya, 2003. Kali ini menggandeng Produser asal Bandung. Judul albumnya "Pendulum Neraka Jahannam." "Album keenam (2013) 'Tumbal 666'. Ada sepuluh lagu yang dirilis dalam bentuk CD," katanya.

Budi mengungkapkan, judul-judul albumnya memang sedikit nyeleneh dan serem sebagaimana nama bandnya. Menurut dia, meski beraliran black metal, Band Santet mengangkat mistis Jawa sebagai tema lagu-lagunya.

Lagu berjudul "Roh Rawarontek" misalnya. Lagub tersebut sempat ngehits pada 1999. Lagubtersebut dirilis dalam kompilasi metalic clinic 1999. Menurut Budi, lagu itu terinspirasi dari film legenda Indonesia yabg mengisahkan ilmu hitam Rawarontek. Lagu lainnya yang juga ngehits yaitu "Mahar Hutan Larangan", "Neli Berhala Jiwa" dan "Myupang Nyi Blorong".

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved