Berkat Menulis Tentang Burung Hantu, Siswa Demak Ini Melenggang ke Thailand

Berkat Menulis Tentang Burung Hantu, Siswa Demak Ini Melenggang ke ASPC Thailand, 5-11 Juli 2015.

Penulis: puthut dwi putranto | Editor: iswidodo
tribunjateng/puthut dwi putranto
Berkat Menulis Tentang Burung Hantu, Siswa Demak Ini Melenggang ke Thailand 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK- Prestasi membanggakan diraih oleh siswa asal Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Berkat karya tulisnya tentang burung hantu, siswa itu mewakili Indonesia di ajang internasional.

Kenaikan kelas kali ini merupakan hari yang bersejarah bagi Arif Setiyadi (17). Siswa SMA Negeri 1 Dempet, Kabupaten Demak, Jawa Tengah yang baru saja naik bangku kelas XII IPA ini berkesempatan mengikuti Asean Student Science Project Competition (ASPC) di Thailand pada 5 Juli hingga 11 Juli 2015, mewakili Indonesia.

Momen langka seperti ini bukanlah perolehan secara cuma-cuma. Sebelumnya Arif berhasil menyisihkan ratusan peserta dari berbagai penjuru Indonesia dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-46 bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tahun 2014.

Sebuah prestasi yang sangat membanggakan tentunya bagi bocah yang sehari-hari menghabiskan waktu luang bersama keluarga kecilnya di desa terpencil sekitar 8 kilometer dari pusat Kota Demak.
Warga Desa Dempet RT 01 RW 03, Kecamatan Dempet ini mengantongi peringkat ketiga dalam kejuaraan nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Pencapaian sulung dari dua bersaudara putra pasangan Nur Ali dan Asih Susanti berkat hasil karya berjudul 'Pola Aktivitas Burung Serak Jawa (Tyto Alba) Sebagai Predator Tikus di Desa Inovasi Tlogoweru'.

"Saya dedikasikan penghargaan ini untuk keluarga dan SMAN 1 Dempet. Saya sendiri tidak menyangka bakalan seperti ini karena banyak karya lain yang lebih bagus," kata Arif saat ditemui Tribun Jateng usai menerima Rapor, Rabu (17/6).

Arif menuturkan, jauh hari hasil karya tulisnya itu bisa tercipta lantaran rasa penasaran terhadap konservasi burung hantu di Desa Wisata Tlogoweru. Mengapa hasil panen pertanian di desa itu yang semula sangat minim akibat ganasnya serangan tikus mulai berangsur optimal setelah dikembangbiakan Tyto Alba sebagai predator tikus.

"Saya tulis mulai dari siklus kehidupan Tyto Alba. Hingga peran Tyto Alba dalam memangsa tikus. Saya kupas semua tentang Tyto Alba di Desa Tlogoweru," terang bocah bertubuh tambun ini.

Menurut Arif, lewat bimbingan Guru Biologi SMAN 1 Dempet, Achmad Machin, karya tulisnya berhasil tembus masuk final sepuluh besar. Puncaknya, setelah dipresentasikan, karya tulis Arif masuk tiga besar.

Arif mengaku tidak terkendala dalam pembuatan karya tulis tersebut. Arif berujar, dirinya memang sejak SD mencintai bidang IPA khususnya Mata Pelajaran Biologi."Terhitung empat bulan saya menyelesaikan karya tulis setelah melalui beberapa revisi dari guru pembimbing saya. Saya bercita-cita menjadi dosen," ungkap Arif.

Achmad Machin, menambahkan, setelah Arif berhasil masuk tiga besar dalam LKIR. Arif diusulkan oleh LIPI untuk membawa hasil karya tulisnya mengikuti Asean Student Science Project Competition (ASPC) di Thailand pada 5 Juli hingga 11 Juli 2015 mendatang.

"Paspor sudah kami urus dan persiapan untuk mengikuti lomba sudah matang. Doanya saja semua berjalan dengan baik. Arif beserta dua orang dari daerah lain mewakili Indonesia ikuti ASPC," kata Achmad.

Kepala Sekolah SMAN 1 Dempet, Purnomo, menjelaskan, di mata para guru dan siswa, Arif tergolong siswa yang berprestasi. Bahkan, sambung dia, Arif memfokuskan rutinitasnya hanya untuk mengasah pengetahuannya di sekolah. Berbagai macam ekstra kurikuler diikuti termasuk Karya Ilmiah Remaja (KIR).

"Arif itu mudah ditemui setiap hari. Waktunya dia habiskan untuk mengikuti kegiatan sekolah. Kalau pulang sore-sore. Seperti penghuni sekolah Arif itu," kata Purnomo. Purnomo mengapresiasi dengan baik pencapaian siswanya ini. Dirinya berharap prestasi seperti ini dapat diikuti oleh siswa lain.

"Kami bebaskan seluruh biaya sekolah bagi Arif. Kami sangat bangga dengan Arif dan semoga siswa lain dapat berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik," kata Purnomo. Ibunda Arif, Asih Susanti, tak menyangka jika putranya yang dikenal penurut tersebut bakalan memperoleh prestasi ini. Dirinya pun berterimakasih kepada pihak sekolah yang senantiasa memberikan dukungan terbaik untuk Arif.

"Arif memang sejak SD selalu rangking tiga besar. Tadi hasil rapornya juga rangking tiga. Kami ini dari keluarga kecil, sehingga kami tak menyangka Arif bisa memperoleh penghargaan ini. Alhamdulilah jika usahanya untuk terus belajar ternyata membuahkan hasil, " imbuh Asih. (tribunjateng/Puthut Dwi Putranto)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved