Bulan Madu Berakhir Petaka
Setelah Kejadian, Keluarga Besar Suami Pembakar Istri Mengungsi
Setelah Kejadian, Keluarga Besar Suami Pembakar Istri Mengungsi
Penulis: raka f pujangga | Editor: iswidodo
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga
TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN -Sri Diana Sari (28), warga Pisang Sari, Panjang Wetan, Pekalongan Utara, bernasib nahas. Baru 20 hari menikah dengan Rozaki (29) dirinya dibakar hidup-hidup, Senin 29 Juni. Dalam kondisi luka bakar lebih dari 48 persen, nyawa Sri Diana tak bisa diselamatkan dan kemudian dimakamkan, Selasa 30 Juni 2015.
Rozaki si suami pun ditangkap polisi, beberapa saat setelah kejadian tragis itu. Pembakaran istri hidup-hidup itu dilakukan di Kelurahan Podosugih, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Senin (29/6) siang. Jenazah korban kemudian dimakamkan Selasa siang. Sejumlah tetangga pun turut berduka dam melayat di rumah korban.
Kakak korban, Slamet Hartono (35), menyampaikan korban sempat sadar pada Senin (29/6), pukul 17.00. Kemudian sempat meminta minum. "Ngomongnya nggak jelas, tapi adik saya sempat mengatakan minta minum-minum. Saya juga suapi roti sedikit-sedikit ya mau," katanya.

Setelah menghabisi nyawa istrinya dengan membakarnya itu, raut wajah Rozaki tampak tidak sedih dan menyesal. Entah apa yang dia rasakan. Dia pun menjawab terus terang saat diinterogasi penyidik Polresta Pekalongan.
Namun demikian keluarga besar korban menampik anggapan tersebut. Menurut Slamet (kakak korban) kondisi psikologis pelaku waras. Sebab sebelum menikah pihaknya pernah mengobrol mendalam. "Tidak mungkin kalau tidak waras. Dia itu sehat kok," kata kakak nomor tiga dari lima bersaudara tersebut. Slamet tak percaya bahwa adiknya (korban) membantah perkataan suaminya karena selama ini dia tahu watak korban. Adiknya dikenal orang yang pendiam. Justru sebaliknya, suaminya (pelaku) yang berperilaku tidak baik.
"Adik saya itu waktu di rumah sakit seperti ingin bercerita penyebabnya, tapi dia sulit bicaranya karena kemungkinan kesakitan," jelas dia. Keluarga Sri Diana (28), korban pembakaran suaminya mencurigai pelaku telah merencanakan pembunuhan tersebut. Sebab, terdapat bensin yang telah dipersiapkan di dalam toples. Padahal pelaku bukan penjual bensin. Kenapa bensin dimasukkan dalam toples. "Bensin di dalam toples itu buat apa? Jualan bensin juga tidak. Kemudian adik saya (korban), disuruh berangkat ke rumah suaminya," katanya.
Setelah itu, kata dia, korban disiram menggunakan bensin dan dibakar hidup-hidup. Sehingga api menjalar, sampai mengenai gordyn rumah. Keluarga mengaku heran korban dapat memperlakukan istrinya setega itu, meski usia pernikahan baru 20 hari.
"Tangki motor saya kepenuhan, makanya saya masukkan ke dalam toples," ujar pelaku, menerangkan kenapa bensin ada dalam toples. Dia mengaku, tidak ada persoalan yang lebih kompleks selama 20 hari pernikahannya tersebut. "Masalah jatah diranjang tidak ada, cuma ya itu saja," katanya.
Dalam wawancara dengan Rozaki, dia berdusta dalam keterangan ke polisi yang mengaku istrinya sempat mengatakan "tak enteki kowe (saya habisi kamu-red)" Sebenarnya kalimat itu adalah kalimat yang dilontarkannya kepada istri sebelum membakarnya. Rozaki juga berdusta menyampaikan, istrinyalah yang ingin segera dinikahi sebelum Lebaran. Padahal sebaliknya, keluarga istri yang sebenarnya tidak ingin menikahinya terlebih dahulu. Namun saat itu Rozaki yang memaksanya untuk segera menikah.
Ketua RT 1 RW 5 Kelurahan Podosugih, Irfandi (41), mengaku pelaku, Rozaki (29), pernah bermasalah sebelum menikahi Sri Diana Sari. Sosok Rozaki dikenal orang yang temperamental. Bahkan dia pernah melakukan percobaan bunuh diri.

"Sebelum nikah pernah mau mencoba bunuh diri, caranya macam-macam. Pernah ingin meminum pewangi cuci pakaian, lalu pernah juga ingin menusuk tubuhnya pakai gunting," kata ketua RT itu. Namun, keluarga selalu mencegahnya untuk melakukan bunuh diri. "Permasalahannya kenapa ingin bunuh diri tidak tahu, karena itu persoalan keluarga," katanya.
Hari Selasa, keluarga dari korban kemudian mendatangi rumah besan. Namun kondisi rumah itu kosong. Rumah di Kelurahan Podosugih, Kecamatan Pekalongan Barat itu dalam waktu singkat sudah tak ada penghuni. "Keluaar kaliaaan.., saya sumpahin keluarga kalian tidak tenaang. Biar dikutuk semuanya," teriak Nur. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tuntut-balas-keluarga-istri-yang-dibakar-geruduk-rumah-besan_20150630_155818.jpg)