Cicuk Ingin Soimah Main di Panggung Ngesti Pandowo

Cicuk masih menyimpan tekad besar untuk mengembalikan kejayaan Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo.

Cicuk Ingin Soimah Main di Panggung Ngesti Pandowo
Sejumlah pemain wayang orang di Ngesti Pandowo yang rata-rata masih mahasiswa.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Cicuk masih menyimpan tekad besar untuk mengembalikan kejayaan Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo. Dia yakin, suatu ketika wayang orang yang menjadi ikon kesenian tradisional Kota Semarang itu bisa kembali ke masa jayanya, seperti pada era 1950-an hingga 1980-an.

Kepada Tribun Jateng, pimpinan Ngesti Pandowo tersebut menyatakan, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat kelompok wayang orang yang kini berusia 78 tahun itu bisa kembali menarik minat penonton. Mengundang bintang tamu dalam pementasan, merupakan salah satu cara yang menurut Cicuk, manjur untuk menjaring para pandhemen atau pencinta wayang orang.

Pemilik nama lengkap Cicuk Sastro Sudirjo itu mengatakan, pengalamannya selama ini menunjukkan, setiap kali Ngesti Pandowo mengundang bintang tamu, selama itu pula jumlah penonton meningkat secara signifikan. Cicuk yang memimpin Ngesti Pandowo sejak tahun 2004 itu memaparkan, selama ini yang sudah dia lakukan adalah memanggil atau mengajak bintang tamu untuk ikut berpentas dalam kesenian wayang orang. Mereka antara lain Didik Nini Thowok, Marwoto, hingga Yati Pesek.

"Nyatanya, ketika ada bintang tamu, jumlah penonton membeludak," kata Cicuk ketika ditemui Tribun Jateng di rumahnya, Jalan Arya Mukti Timur, Pedurungan, Kota Semarang, beberapa waktu lalu.

Dia mengakui, bintang tamunya memang tidak kekinian dan bisa menarik pengunjung lebih banyak. Hal itu karena ia ingin tetap dalam pakem bahwa setidaknya artis yang datang memiliki kemampuan untuk menari dan berakting.
"Pernah saya coba undang artis masa kini yang sedang booming dan kebetulan dia juga mampu menari dan bisa bermain wayang orang. Saat itu saya coba mengundang Soimah, namun saat itu biayanya ternyata sangat mahal sehingga kami tidak berani," kata pria bernama asli Yuli Ismanto tersebut.

Ia sadar dengan adanya bintang tamu seperti Soimah akan menarik banyak pengunjung, namun ia tidak ingin membebani ongkos produksi yang kian hari semakin defisit.

Perlu diketahui, WO Ngesti Pandowo merupakan kelompok wayang orang yang telah eksis di Semarang lebih dari 60 tahun. Sebetulnya, kelompok tersebut bukan asli dari Semarang. Ngesti Pandowo berdiri di Maospati, Madiun, pada 1 Juli 1937. Artinya, saat ini Ngesti Pandowo telah berusia 78 tahun lebih.

Setelah itu, Ngesti Pandowo menjadi wayang orang tobong yang berkeliling dari satu kota ke kota lain. Baru pada tahun 1950-an, Ngesti Pandowo menetap di Kota Semarang, dan mencapai kejayaannya pada periode 1950-an hingga 1980-an.

Saat ini, Ngesti Pandowo secara rutin menggelar pentas di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jalan Sriwijaya Nomor 29, Semarang, saban Sabtu malam. Pentas itu digelar di Gedung Ki Narto Sabdho, sebuah gedung megah yang bernama sama dengan salah seorang pendiri wayang orang tersebut.

Bidik turis

Selain mengundang bintang tamu, kata Cicuk, dia juga berupaya menarik turis atau penonton dari kalangan warga asing. "Karena tidak dimungkiri memang ketertarikan warga asing lebih besar dibandingkan warga lokal sehingga memang harapan kami ada kesepakatan untuk mengarahkan turis asing itu untuk menonton pentas ini," katanya.

Warga asing yang dibidiknya sebagai calon penonton, kata Cicuk, bisa dari kalangan mahasiswa asing yang belajar di Semarang atau penumpang kapal pesiar yang singgah di Semarang. Dia berharap, ada arahan dari instansi terkait, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengarahkan warga asing menyaksikan wayang orang saat mereka mampir di Semarang.

"Bahkan, bukan tidak mungkin, Ngesti Pandowo menjadi salah satu unggulan pariwisata di Semarang," kata Cicuk, yang merupakan putra mendiang Sastro Soedirdjo, satu dari lima pendiri Ngesti Pandowo.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jateng, Ki Sutadi menyampaikan, Ngesti Pandowo tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri untuk kembali meraih kejayaannya. Menurut pensiunan PNS Pemprov Jateng tersebut, perlu gerakan bersama untuk kembali membangkitkan Ngesti Pandowo.

''Penting diperhatikan, bagaimana perhatian publik, khususnya pemangku kepentingan bidang kebudayaan dan terutama para pengambil kebijakan untuk kembali mengangkat Ngesti Pandowo,'' katanya. (val/amp)

Penulis: rival al-manaf
Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved