Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Perbankan

Pertumbuhan Perbankan Syariah di Jateng Lambat

Jika hingga akhir tahun 2014 pangsa pasar sebesar 4,85 persen, untuk tahun 2015 dari awal hingga Mei lalu sebesar 4, 67 persen.

Penulis: hermawan Endra | Editor: Catur waskito Edy

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hermawan Endra Wijonarko

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pertumbuhan industri keuangan syariah dinilai kurang optimal. Padahal, semua potensi menuju pusat keuangan syariah dunia telah dimiliki Indonesia.

Berdasarkan data dari indikator perkembangan perbankan syariah di Indonesia, terjadi pertumbuhan yang cukup cepat tetapi belum optimal. Hal tersebut terlihat dari pangsa pasar yang masih kecil namun memiliki potensi dan peluang berkembang yang sangat besar.

Deputi Direktur Divisi Review Kebijakan dan Standar Internasional OJK, Deden Firman Hendarsyah mengatakan, sebagai perbandingan, jumlah bank umum syariah pada tahun 2014 sebanyak 11, kemudian setahun berikutnya menjadi 12 bank. Diharapkan, untuk pangsa pasar juga naik signifikan dibandingkan tahun 2014.

Jika hingga akhir tahun 2014 pangsa pasar sebesar 4,85 persen, untuk tahun 2015 dari awal hingga Mei lalu sebesar 4, 67 persen. Pihaknya memrediksi jumlah tersebut masih akan meningkat hingga akhir tahun.

Deden menambahkan, melihat kondisi pasar yang ada, OJK dan Pemerintah berusaha memperluas pasar dan memperbaiki sistem yang ada.

"OJK bersama Pemerintah dan bank sentral bercita-cita mengembangkan industri keuangan syariah yang mendukung kesejahteraan masyarakat luas yang berkelanjutan," katanya.

Pihaknya juga terus mendorong industri keuangan syariah untuk meningkatkan kinerja dan pelayanannya dengan tetap mempertahankan konsistensi memenuhi prinsip syariah.
     
Sementara itu, Ketua Asosiasi Syariah Indonesia (Asbisindo) Kota Semarang, Indro Setiaji, mengatakan, bank syariah bukan hanya untuk muslim tetapi juga untuk masyarakat non-muslim.

Bahkan, lanjut dia, banyak negara asing, khususnya wilayah Barat yang mulai menyosialisasikan keberadaan bank syariah ini. "Banyak masyarakat di sana yang ternyata tertarik menjadi nasabah," kata Indor Setiaji, saat membuka temu bisnis di Gumaya Tower Hotel Semarang, Kamis (13/8).

Menurutnya, meski tidak mengenal sistem bunga tetapi perbankan syariah menerapkan sistem bagi hasil yang juga menguntungkan bagi nasabah.

Kepala OJK Regional 4 Wilayah Jateng dan DIY, Santoso Wibowo, mengatakan, perkembangan perbankan syariah di Jawa Tengah mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya sosialisasi keberadaan bank syariah, dan pergerakan marketing masing-masing bank yang juga kurang gesit.

Dijelaskannya, pada Desember 2014 lalu aset perbankan  syariah di Jawa Tengah mencapai 20,3 triliun, turun 1,6 persen saat Mei 2015 menjadi 19,9 triliun.

Dari sisi pembiayaan, perkembangan industri perbankan syariah juga mengalami penurunan 0,02 persen. Jika pada Desember 2014 total pembiayaan tercatat 15,1 triliun, lima bulan kemudian Mei 2015 turun menjadi 15,06 triliun.

Sedangkan dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), menurut Santoso pertumbuhannya masih positif. Jika pada Desember 2014 lalu 14,57 triliun, hingga Mei 2015 meningkat hingga 14,65 triliun.

"Kalau market sharenya, industri perbankan syariah di Jawa Tengah asset 5,6 persen , pembiayaan 6,1 persen, DPK 5,7 persen. Masih tinggi tinggi dibanding nasional," paparnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Tags
syariah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved