Success story
Saya Bosan Menjadi Karyawan
Saya ingin bengkel ini menjadi one stop service, jadi orang masuk sini bisa apa saja, seperti servis maupun variasi
Penulis: hermawan Endra | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM -- Berkekal nekat dan keyakinan melihat celah pasar menjadi kunci sukses Budi Suminarto di bisnis bengkel dan perawatan mobil. Dengan ilmu yang didapat semasa bekerja di Nasmoco Semarang, ayah dua anak itu kini sukses membangun jasa servis mobil berbendera 'Plat H'.
Berikut penuturan Budi Suminarto, pemilik 'Plat H Auto Station' di bisnis otomotif kepada wartawan Tribun Jateng, Hermawan Endra, dan fotografer Hermawan Handaka, di kantornya, Jalan Pamularsih Raya No. 46A Semarang.
Bagaimana awal cerita pendirian bengkel mobil?
Awalnya karena kemampuan dasar saya adalah seorang mekanik di Nasmoco. Saya bekerja selama 8 tahun, pada 1996-2004. Selama bekerja saya punya cita-cita ingin mendirikan usaha sendiri. Saya kemudian resign untuk mendirikan bengkel bernama Plat-H bersama empat teman lain, dengan modal patungan sekitar Rp 15 juta/orang.
Kami berlima punya tugas masing-masing, di antaranya satu bertugas sebagai sales, satu bagian administrasi, dan tiga lain termasuk saya merupakan jebolan mekanik Nasmoco. Seiring berjalannya waktu karena kesibukan, usaha kami hanya menyisakan saya dan almarhum Widarto.
Kenapa namanya Plat H?
Waktu itu banyak pilihan nama, cuma saya ingin mencari yang mudah dikenal dan membawa almamater daerah bengkel setempat. Banyak masukan nama, seperti lumpia servis. Cuma tiba-tiba saja kami ambil nama dari Plat Nomor H, hingga mengerucut menjadi Plat H. Tujuannya mewakili Kota Semarang, karena hingga saat ini kami masih belum buka cabang.
Bagaimana kondisi awal Plat H?
Berdiri pada 2004, awalnya mengambil lokasi di daerah Siliwangi Semarang dengan sistem kontrak. Kami memanfaatkan sisa lahan di reparasi mobil Sarang Knalpot. Kami mengontrak selama tiga tahun, untungnya si pemilik lahan bernama Pak Santoso orangnya baik hati, kami diberi kelonggaran pembayaran boleh dicicil selama tiga tahun. Setahunnya sewa Rp 32,5 juta.
Dulu mobil yang masuk hampir 90 persen produk Toyota karena kami jebolan Nasmoco. Sebetulanya saya inginnya punya spesialis satu merek. Tapi seiring berjalannya waktu, tawaran pelanggan membuat saya tidak enak hati menolak, hingga akhirnya semua jenis pabrikan mobil bisa saya terima. Karena dikerjakan sendiri merasa kewalahan, saya menggaet karyawan-karyawan ahli di masing-masing merek mobil.
Kenapa memilih lokasi usaha di Semarang?
Karena domisili di Semarang dan banyak pelanggan-pelanggan saya dulu semasa bekerja di Nasmoco yang berasal dari sini. Selain itu, saya tahu tempat-tempat yang berkaitan dengan otomotif, seperti beli spare part di Semarang.
Bagaimana persiapan Anda berwirausaha?
Persiapannya adalah nekat dan yakin. Nekatnya karena modal yang terkumpul dari kelima orang pencetus hanya bisa digunakan untuk membayar sewa tempat. Tetapi nekat saja tidak cukup, kami juga yakin dengan kemampuan yang dimiliki.
Keyakinan itu karena kami punya basic pendidikan dealer. Ilmu yang didapat dari tempat kerja dulu sepenuhnya kami terapkan, seperti cara bekerja, ketertiban, penggarapan, dan lain sebagainya.
Selain itu, keyakinan bisnis ini bakal maju adalah karena bengkel menurut saya merupakan kebutuhan pokok bagi pemilik mobil. Kalau ibaratnya manusia butuh makan sehingga muncul usaha warung makan. Kami pun buka bengkel wajib bagi mereka dalam perbaikan atau perawatan mobilnya. Jadi kami yakin bisnis ini akan tetap diburu.
Bagaimana kondisi usaha di tahap awal?
Awalnya sempat tiga bulan kami berlima tidak gajian dulu. Penghasilan yang didapat diutamakan untuk gaji lima karyawan. Dalam sehari masuk paling hanya satu sampai tiga unit mobil. Bahkan pernah tidak ada mobil sekalipun dalam sehari.
Saat awal operasional, kami hanya memiliki satu set kunci dan satu kompresor. Alat-alat bengel itu kebanyakan milik saya pribadi yang saya beli saat masih bekerja di Nasmoco. Fasilitas bengkel juga masih alakadarnya.
Kenapa memperhitungkan harus ada sales?
Sales kami yaitu mbak Lala, merupakan mantan karyawan Andalan Mobil. Awalnya kami tidak hanya bengkel mobil, tetapi juga nyambi berjualan mobil bekas. Tapi cuma berjalan sekitar tiga tahun, karena dia memutuskan keluar.
Apa saja tantangan bekerja di bidang otomotif?
Tantangannya yaitu sekarang ini banyak bengkel bermunculan. Sehingga kualitas dan hubungan dengan pelanggan harus selalu dijaga dengan baik.
Jasa servis apa yang anda berikan di awal buka?
Waktu itu kami mengerjakan apa aja soal mobil, mulai dari servis ringan seperti tune-up, ganti oli, sampai turun mesin dengan alat seadaanya. Tapi sekarang dengan adanya mobil baru harus pakai peralatan elektronik dan pengoperasian digital, sehingga mau tidak mau harus mengikutinya.
Bagaimana cara menggaet pelanggan?
Ada beberapa pelanggan saya dulu semasa bekerja di Nasmoco yang kami kirim surat dan hubungi via telepon. Namun, paling utama adalah menyebar flayer, naik motor ujan-ujanan, kadang sampai dikejar-kejar satpam. Pokoknya semua tempat parkir mobil di Semarang saya datangi untuk menyelipinkan brosur Plat H di tiap-tiap mobil yang terparkir.
Sampai sekarang nyebar brosur tetap saya lakukan, terutama ketika ada alat baru dan program khusus. Hasilnya dari kedua cara itu cukup efektit menggaet pelanggan. Tinggal sisanya promosi dari mulut ke mulut pemilik mobil.
Apa ujian terberat Anda selama berwirausaha?
Ujian terberat pada saat patner kerja saya, mas Widarto meninggal akibat kecelakaan di ajang Kejurnas Speed Off Road empat tahun lalu. Semenjak itu saya bekerja sendiri. Dulu saat saya sedang keluar bengkel ada mas Widarto yang selalu standby. Kalau sekarang saya sudah mengurangi keluar kantor. Hanya pada saat penting-penting saja, seperti persentasi promosi di instansi.
Mas Widarto seperti soulmate buat saya, teman semasa remaja dan patner seperjuangan merintis usaha. Saat ini, istrinya yang menggantikan posisinya, bekerja dengan saya mengurusi administrasi. Dulu selama tiga tahun istri almarhum saya suruh di rumah karena anaknya masih kecil-kecil. Tapi setiap bulan tetap saya gaji sama dengan yang diterima almarhum dulu dan laporan-laporan juga saya berkan sebagai bukti.
Apa kunci sukses Anda dalam berbisnis?
Pada awal merintis, saya tidak berfikir sehari harus dapat uang segini. Hanya ada di benak saya adalah bagaimana caranya mobil yang masuk nanti keluar dalam kondisi bagus. Pada saat itu tidak ada mobil nginap, misalnya masuk pagi hari, siangnya sudah bisa diambil.
Kemudian bengkel ini dikenal orang buka sampai malam, padahal tidak, malam hari garasi saya tutup, proses pengerjaan dilakukan hingga pagi siap diantar ke pelanggan. Kecepatan serta hasil yang tidak mengecewakan menurut saya yang menjadi kunci sukses.
Apa target Anda saat ini?
Saya target dalam bekerja cuma ingin orang yang bekerja dengan saya sejahtera. Ibaratnya mereka bangga dengan pekerjaannya. Saya ingin bengkel ini menjadi one stop service, jadi orang masuk sini bisa apa saja, seperti servis maupun variasi. (wan)
BIODATA
Nama : Budi Suminarto
Pemilik Plat H Auto Station, di Jalan Pamularsih Raya No 46A Semarang
Tempat & Tanggal Lahir: Semarang, 13 Agustus 1973
Hobi: Fotografi
Alamat Rumah: Jalan Badak 1 No. 70, Semarang
Istri: Dini Prameswari
Anak:
1. Kayla Zahra
2. Thora Zaki
Moto: Apa yang dikerjaan dan dilakukan terpenting harus berguna bagi orang lain
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pemilik-plat-h_20150817_114330.jpg)