Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Edukasia Kampus

UKSW Buka Ekstrakurikuler Membatik

Beberapa mahasiswi terlihat sibuk mencanting, menggambar dengan peranti canting di atas selembar kain mori.

Penulis: deni setiawan | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/Deni Setiawan
Mahasiswa UKSW Membatik 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA -- Fakultas Sains dan Matematika (FSM) UKSW Salatiga kini memiliki ekstrakurikuler batik. Dalam pembukaan ekstrakurikuler membatik, FSM bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Studi Gender (PPSG) universitas tersebut.

Beberapa mahasiswi terlihat sibuk mencanting, menggambar dengan peranti canting di atas selembar kain mori. Sesekali, tangan mereka mencelupkan canting ke wajan berisi malam, lantas menorehkannya ke atas kain.

Pada saat yang sama, mahasiswi lainnya menjemur kain yang telah selesai dibatik. Kain-kain berukuran sekitar 30 x 30 sentimeter persegi itu telah penuh berbagai motif. Ada bebungaan, ada juga motif campuran berbagai gambar.

Para mahasiswi tersebut merupakan peserta ekstrakurikuler membatik, besutan FSM dan PPSG UKSW. "Ada sekitar 30 mahasiswa yang mengikuti ekstrakurikuler membatik," kata Hartati Soetjipto, dosen FSM UKSW.

Tiap pekan, kata dia, para mahasiswa berlatih membatik, mulai dari proses produksi hingga memasarkan melalui online.

"Kami berharap, mereka (peserta ekstrakurikuler membatik--Red) bisa menularkan materi yang mereka dapatkan kepada mahasiswa lain," katanya.

Lebih lanjut, Hartati menyatakan, hingga saat ini Salatiga belum memiliki ciri khas batik.

Dia berharap, pada masa mendatang Salatiga dapat dikenal melalui ciri khas batik lokal. Dia menambahkan, ada beberapa pembatik yang sudah mencoba secara mandiri, tetapi belum sepenuhnya dikenal oleh pihak luar.

Penelusuran Tribun Jateng menunjukkan, di Salatiga sebenarnya telah berkembang batik lokal, yang disebut batik plumpungan.

Batik tersebut dirintis oleh Bambang Pamulardi, PNS di lingkungan Pemkot Salatiga, sejak tahun 2004. Motif batik plumpungan terinspirasi dari Prasasti Plumpingan, yang merupakan catatan sejarah paling penting bagi Kota Salatiga.

Setiap motif batik plumpungan mempunyai ciri-ciri bergambar dua bulatan berukuran besar dan kecil sedikit lonjong dalam satu kesatuan, yang jika dilihat dari sudut pandang atas menyerupai Prasasti Plumpungan.

Dua gambar bulatan besar dan kecil lonjong ini akan menjadi beraneka ragam motif batik sesuai dengan keinginan, kreativitas, dan imajimasi pendesain dan pembatiknya.

Cinta batik

Sementara itu, Koordinator Kegiatan dari PPSG UKSW, Arianti Ina Restiani Hunga menyampaikan, pembentukan ekstrakurikuler membatik tersebut bertujuan menumbuhkan budaya cinta batik di kalangan mahasiswa.

Tidak sekadar menanamkan rasa cinta terhadap batik, kegiatan program entrepreneurship para mahasiswa UKSW itu diharapkan juga dapat mengampanyekan sebagai warisan budaya Indonesia agar tidak luntur atau hilang ditelan zaman.
Arianti menyatakan, batik merupakan warisan budaya yang seyogianya dilestarikan. Budaya cinta batik, menurut dia, perlu ditransformasikan kepada generasi muda.

"Kami merasa berkewajiban untuk berperan aktif dalam melestarikan warisan budaya Indonesia. Terlebih semakin memprihatinkan ketika itu beberapa waktu lalu nyaris diklaim oleh negara lain. Atas dasar itu, kami perlu melakukan transformasi, revitalisasi, serta inisiasi terhadap batik itu sendiri," tegasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved