Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

Donal Bebek, Donald Trump

Julukan mentereng Donald Trump adalah “raja real estate”. Jaringan bisnis propertinya mendunia, bahkan ia juga berinvestasi di Indonesia

Tayang:
kompas.com
Setyo Novanto dan Donald Trump 
Anak-anak Indonesia umumnya kenal dengan tokoh kartun yang satu ini, Donal Bebek. Sebutan internasionalnya, Donald Duck. Sosok Donal mudah tertanam pada pemirsa karena karakter yang unik. Sifatnya mudah marah, ganti-ganti pekerjaan, tapi lebih terampil dari karakter Disney lain.
Sebenarnya sifat Donal Bebek yang mudah marah kurang pas menggambarkan bebek sejatinya. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu ..." (Al Mukminun 21). Dari bebek, misalnya, orang bisa belajar ikhlas. Setelah bertelur, bebek selalu meninggalkannya, terserah siapa yang mau mengambilnya.
Bebek juga termasuk binatang yang patuh kepada pimpinan. Lihatlah saat berenang, bebek-bebek selalu dalam satu barisan, mengikuti kemana saja sang pemimpin. Karena itu pula --meski mengurangi nilai pemaknaannya -- muncul istilah membebek yang diartikan mengikuti saja pendapat orang tanpa berpikir (hanya meniru orang lain).
Lain halnya Donald Trump. Kalau anak-anak negeri ini ditanya, apakah mengenal dia, bisa jadi dikira teman Donal Bebek, atau tokoh baru dalam film kartun. Tapi orang dewasa, khususnya sebatas kalangan menengah-atas, kurang ‘keren’ kalau tak mengenal miliarder ini.
Julukan mentereng Donald Trump adalah “raja real estate”. Jaringan bisnis propertinya mendunia, bahkan ia juga berinvestasi di Indonesia. Apalagi sekarang ia kandidat calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik. Jadi, sepintas membanggakan jika orang setenar Trump menyempatkan diri memperkenalkan orang Indonesia di sela kampanyenya.
Itu sungguh Trump lakukan saat konferensi pers terkait pencalonannya di Trump Tower, New York City, Kamis (3/9/2015). Yang ia perkenalkan adalah Setya Novanto. Bahkan, Trump memujinya seperti ini, “(Ini) Ketua DPR Indonesia. Dia berada di sini untuk bertemu saya. Setya Novanto, salah seorang yang paling berkuasa dan orang hebat.”
Hanya saja, yang menuai kritik adalah soal jawaban atas pertanyaan Trump, "Apakah orang-orang menyukai saya di Indonesia?" Novanto menjawab, "Ya, sangat (suka)."
Kritik dari anak bangsa pun bermunculan. Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana, misalnya, antra lain mempersoalkan Novanto yang sempat mengklaim bahwa rakyat Indonesia menyukai sosok Trump. "Terlebih lagi rakyat Indonesia belum tentu tahu siapa itu Donald Trump, terlebih menyukainya,” ujarnya.
Menanggapi kritikan itu, Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang ikut rombongan Novanto, menjelaskan pertemuan sejumlah pimpinan DPR RI di ruang kampanye Trump tidak masuk dalam bagian kunjungan kerja parlemen ke AS untuk mengikuti konferensi para Ketua Parlemen Dunia di markas PBB di New York. "Di konferensi pers itu, Trump memperkenalkan Ketua DPR. Kita improvisasi saja," ucap Fadli.
Menyoal Novanto “mengiyakan” ucapan Donald Trump memang sudah diklarifikasi. Namun, kritik itu paling tidak sebagai pengingat bahwa wakil rakyat, apalagi ketuanya wakil rakyat Indonesia, jangan mudah bilang “ya” sekalipun dari ucapan orang setenar Trump. Jangan sampai muncul kesan wakil rakyat mudah membebek. “Wakil rakyat bukan paduan suara.” Demikian sebaris syair lagunya Iwan Fals. (*)
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved