Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Success story

Tak Pernah Menyerah Mengembangkan Batik Kudus

Di tangan dingin Ummu Asiyati, pemilik butik Alfa Shoofa Kudus, batik khas Kota Kretek terus dikembangkan dari segi keragaman motif.

Produk batik sebagai satu khasanah budaya bangsa terus berkembang di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Kudus. Di tangan dingin Ummu Asiyati, pemilik butik Alfa Shoofa Kudus, batik khas Kota Kretek terus dikembangkan dari segi keragaman motif.
Proses pembuatan pun tidak mengandalkan tulis, tetapi juga cetak. Berikut penuturan perjalanan Ummu Asiyati mengembangkan batik Kudus kepada wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto, di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus.
---
Bagaimana awal mula terjun di bisnis batik Kudus?
Saya merintis usaha batik pada awal Mei 2008. Sebelumnya, saya tidak bergelut di dunia batik, melainkan usaha bordir. Saat ikut di pameran bordir, banyak warga dari luar daerah menanyakan apakah Kudus punya batik? Sementara beberapa daerah lain sudah terkenal dengan batik. Dari situ saya merasa tertantang membuatnya. Seolah terpacu dengan tantangan itu, saya memberanikan diri membuka usaha batik, dan Allah mungkin mendengar doa saya. Saya pun mulai mempelajari batik.
Sebelumnya saya tidak punya ilmu apapun tentang batik. Kemudian saya belajar dan mengambil kursus pada pengusaha batik di Semarang. Bu Umi namanya. Beliau adalah guru saya. Tidak hanya saya dan suami yang belajar tentang batik, saya juga mengajak beberapa anak di sekitar rumah yang membutuhkan pekerjaan. Setelah bisa, saya ajak mereka membuka usaha batik bersama-sama.

Proses belajar seperti apa yang dilewati?
Belum. Ternyata belajar membatik itu tidak instan. Butuh waktu lama dan ketelatenan. Saya membawa empat anak tetangga untuk belajar batik di Semarang. Dua anak perempuan untuk belajar nyanting, dan dua anak pria untuk belajar pewarnaan. Selama dua pekan di Semarang, kami banyak belajar pengenalan batik, khususnya tulis. Setelah itu kami pulang dan mempraktekannya.

Bagaimana hasil awalnya?
Amburadul dalam pewarnaan. Hasil warna yang dihasilkan tidak karuan. Akhirnya saya telepon Bu Umi lagi. Ternyata memang ada kesalahan pada zat pewarna. Dia pun mengajak saya untuk belajar membatik di Batik Komar Bandung. Kebetulan Bu Umi juga akan mengirim anak buahnya ke sana. Karena sudah tresno dengan batik, saya dan suami serta dua anak yang bertugas pewarnaan pun berangkat ke Bandung. Selama satu pekan kami belajar pewarnaan. Tidak hanya pewarnaan, kami juga mendapat ilmu tentang bagaimana mendesain serta manajemennya.
Ia pun menganjurkan kami mampir ke tempat produksi Batik Komar di Cirebon. Saat perjalanan pulang dari Bandung, kami pun mampir ke Cirebon. Di sana kami belajar membatik satu hari. Setelah itu kami pulang dan hasilnya sudah lumayan bagus. Satu hari Pak Komar mengatakan kepada saya bahwa di Kudus belum ada batik, sehingga saya disuruh jangan konsentrasi pada batik tulis saja, melainkan batik cetak juga, agar dapat dinikmati semua kalangan.

Apa yang Anda lakukan selanjutnya?
Dia lebih berpengalaman ketimbang saya. Saya pun bertekad mengembangkan batik cetak. Hasil batik cetak yang dihasilkan Pak Komar pun bagus-bagus. Saya tergiur dengan penawaran itu. Namun, di situ ada kendala lain, yakni tenaga untuk mengecap tidak ada, ilmu tentang batik cap pun sangat minim. Akhirnya saya kirim satu orang lagi tenaga pria untuk belajar membuat batik cap di Pak Komar.
Saya juga sekalian memesan alat cap yang terbuat dari tembaga dengan motif khas Kudus. Saya berinisiatif membuat batik motif dengan kekhasan yang dipunyai Kudus. Beragam motif pun dibuat, di antaranya motif Menara Kudus, Air Terjun Montel Muria, tembakau, cengkeh, dan masih banyak lagi.

Bagaimana setelah belajar lagi?
Setelah kami belajar ke sana-kemari, akhirnya kami sudah berani produksi. Karena baru produksi, kami hanya menghasilkan satu batik dalam sehari. Yakni batik kombinasi antara tulis dan cetak. Mungkin anak-anak belum bisa cepat mengerjakannya. Padahal, saat itu sudah ada sekitar lima karyawan ditambah dengan saya dan suami.
Kami pun menambah karyawan lagi. Namun saat itu, untuk mencari pekerja yang mau membuat batik agak susah. Mereka lebih memilih bekerja di perusahaan besar di Kudus. Seiring dengan waktu berjalan, kami pun lebih lihai dalam membuat batik.

Apakah masalah keterampilan membatik sudah teratasi?
Saya pikir, ilmu tentang batik itu tidak ada habisnya. Tidak serta-merta langsung bisa seperti ini dan itu. Harus tekun dan ulet dalam mempelajari dan mempraktekan. Sambil berjalan, saya pun menimba ilmu dari produsen batik di Solo dan Pekalongan. Kalau saya ke sana, saya selalu melihat pembuatan batik yang bagus itu seperti apa. Setelah itu saya bisa memberikan masukan kepada karyawan dan mempraktekan.
Saya juga pernah memanggil perajin batik Pekalongan untuk memberikan pelatihan batik di tempat saya. Selama dua bulan, anak-anak diajari cara membatik ala Pekalongan. Namun, perajin batik itu tidak betah karena batik yang saya buat itu susah. Saya memang mengharuskan coretan batik tulis di kain itu tembus. Karena dia sudah terbiasa bekerja cepat, hasil produksinya tidak menembus ke sisi lain batik. Dia pun memutuskan untuk mengajari kami dua bulan.

Bagaimana perkembangannya?
Anak-anak jadi semakin pintar, semakin percaya diri, dan makin banyak pengembangan dalam mengkreasikan batik. Batik tulisnya juga makin bagus dengan sentuhan berbagai improvisasi. Hasil produksi juga mulai dipasarkan, tetapi belum ada yang berani beli. Selama dua tahun, orang masih meragukan batik yang saya buat. Mereka masih memandang sebelah mata. Ada lagi yang mengatakan batik saya mahal.
Berbagai kritik pedas pun dilontarkan. Katanya batik Kudus kok motifnya tembakau dan cengkeh? Saya pun mulai bergerilya ke instansi-instansi untuk menawarkan batik. Saat itu saya mulai berpikir, tidak mungkin saya menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Sudah terlanjur basah harus mandi sekalian. Sudah mengeluarkan banyak biaya dan waktu, tidak mungkin usai begitu saja. Saya pun mulai berpikir untuk membuat batik yang harganya lebih murah, tetapi dengan kualitas tidak kalah bagus.

Apa langkah mengatasi kendala pemasaran?
Sembari saya membeli perlengkapan pembuatan batik, saya pun belajar lagi di Pekalongan, karena di Pekalongan terkenal dengan batik cap yang murah tetapi tetap layak dipakai masyarakat Kudus. Di sana saya belajar cara mewarnai 30 potong kain dengan sekali celup. Kualitasnya hampir sama, cuma proses pembuatannya yang dapat memangkas biaya produksi.
Saya pun membawa karyawan untuk belajar cara itu di Pekalongan. Setelah itu saya memproduksi dan hasilnya lumayan. Saat itu sudah mulai banyak warga Kudus yang melirik. Dengan warna yang tidak luntur dan kain yang tidak mudah terlipat, mereka bisa mendapatkan harga kain batik yang relatif murah. Sampai sekarang bersyukur masih bertahan dengan beragam pengembangan lagi.

Bagaimana usaha bordir yang sebelumnya Anda tekuni?
Saya masih menekuninya. Mengembangkan kombinasi antara batik Kudus dengan bordir. Keahlian awal saya di bordir, sehingga sampai saat ini tidak saya tinggalkan. Saat ini saya punya 15 karyawan yang menangani bordir, baik juki maupun icik.

Apa harapan Anda ke depan?
Long live education. Karena ilmu tentang batik tidak akan habis, saya juga akan terus belajar mengembangkan batik, khususnya batik Kudus. Kalau ada pelatihan dari dinas baik kabupaten maupun provinsi akan saya ikuti. Saya juga berdoa agar batik Kudus terus maju, sehingga makin banyak perajin batik Kudus, tidak hanya bordir. (mam)
Sumber: Tribun Jateng
Tags
batik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved