Renungan
Hijrah Mengarungi Kedalaman Jiwa
Bulan Muharram disebut Syahrullah (bulan Allah), yang disandarkan pada lafadl Jalalah Allah, untuk menunjukkan betapa mulia bulan ini.
MOMENTUM 1 Muharram menjadi cermin bagi refleksi untuk melihat kedalaman jiwa kita sendiri. Ibaratnya, Muharram adalah pintu gerbang dari segala ritme waktu dalam masa satu tahun.
Demikianlah, layaknya gerbang, ia menawarkan segala kemungkinan: peluang dan harapan, juga kecemasan. Maka, bagi umat muslim, Muharram dibuka dengan renungan dan doa, untuk menjernihkan batin serta mengguratkan segenap keinginan.
Dalam renungan Syaikh Zamakhsari, bulan Muharram menjadi bulan penting karena ia menjadi pintu gerbang bagi ritme waktu yang bergerak tiap tahun.
“Bulan Muharram disebut Syahrullah (bulan Allah), yang disandarkan pada lafadl Jalalah Allah, untuk menunjukkan betapa mulia bulan ini. Pada awalnya, bulan ini dinamai Shofar al-Awwal, kemudian disebut sebagai Muharram,” ungkap Zamakhsari dalam kitab Faidul Qadir.
Masyarakat Jawa, juga mengapresiasi bulan Muharram sebagi bulan suci, yang disebut bulan Suro. Pada bulan Suro, orang Jawa melakukan ritual khusus untuk mensucikan diri, serta memberi penghormatan pada sesuatu yang dianggap keramat: keris, pusaka, dan pelbagai benda suci yang memancarkan energi.
Tentu saja, niat baiknya, untuk membersihkan segala yang kotor, menjernihkan segala yang kusam. Maka, bisa dilihat di pelbagai kawasan, berlangsung berbagai ritus penting untuk melakukan jamasan dan upacara serupa.
Muharram sejatinya adalah bulan dengan segenap kesucian, mengajak umat muslim untuk merenungi hakikat hijrah. Pada 14 abad yang lalu, Nabi Muhammad telah menggubah strategi dakwahnya, yang mampu mewarnai peradaban muslim: hijrah dari Makkah menuju Madinah.
Pada waktu itu, terjadi transformasi peradaban bagi kaum muslim, dengan membentuk peradaban baru antara kaum Muhajirin (pendatang) dan kaum Anshor (penolong) yang ada di kota Yatsrib. Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad, terus bergema hingga kini, dengan kontekstualisasi untuk menyegarkan kembali langkah menguatkan pengetahuan, membangun peradaban.
Hijrah inilah yang menjadi renungan bagi kita dalam memaknai Muharram. Hijrah tidak sekedar dimaknai sebagai perpindahan fisik, akan tetapi juga transformasi mental dan spiritual. Hijrah menggerakkan diri kita untuk insaf, merenungi kedalaman batin, dan mengarungi ombak spiritualitas. (*)
Munawir Aziz
Pengurus Lajnah Ta’lif wan-Nasyr PBNU, CEO Teraju Indonesia-Mizan Group
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/munawir-aziz_20151014_091413.jpg)