Tribun Corner
Isyarat Edelweiss Layu
Cerita lain, Gunung Lawu terkenal dengan penunggu sekaligus penunjuk jalan seekor burung misterius, bernama Kyai Jalak Lawu.
Gunung Lawu memiliki beragam cerita. Tiga puncaknya, masing-masing bernama Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah (tertinggi), konon sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Gunung yang nama aslinya Wukir Mahendra, menurut legenda, merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa yang dipimpin oleh raja yang dikirim dari Khayangan.
Cerita lain, Gunung Lawu terkenal dengan penunggu sekaligus penunjuk jalan seekor burung misterius, bernama Kyai Jalak Lawu. Para pendaki umumnya mengenal burung jalak yang konon salah satu jelmaan dari abdi dalem setia Prabu Brawijaya V yang bertugas untuk menjaga Gunung Lawu tersebut.
Yang bukan sekadar legenda, nyata, puncak Gunung Lawu terkenal dengan keindahannya. Beragam Bunga Edelweiss bisa ditemukan di sini. Masing-masing memiliki keunikan warna yang berbeda. Tak heran Lawu, gunung yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur itu menjadi salah satu primadona bagi para pendaki.
Beragam istilah muncul untuk menyebut nama tanaman eksotis tersebut. Ada yang menyebut sebagai bunga keabadian, ketulusan dan perjuangan. Karena, bunga ini terus awet dan berada di puncak gunungm tumbuh di daerah ekstrem, sehingga seolah menerima keadaan apa adanya tanpa menuntut kondisi yang mengenakan.
Bagi kawula muda, Edelweiss yang mulai berbunga April-Agustus itu juga sebagai lambang tentang cinta abadi. Bagi yang memberikan bunga ini kepada pasangannya, maka cintanya akan abadi.
Bagi para pendaki, bisa juga diartikan Edelweiss sebagai lambang cinta abadi terhadap alam. Cinta dalam arti menghargai dan menjaga kelestarian alam Lawu.
Para pendaki sejati tentunya sangat menghayani filosofi itu. Bagi mereka, mendaki gunung bukan berarti menaklukkan alam, tapi lebih utama menaklukkan diri sendiri dari keegoisan pribadi.
Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antarsesama. Karena itu, para pendaki sejati umumnya tak sembarangan memetik Edelweiss, tetap menjaga alam sekitar, termasuk tidak gegabah terkait api unggun saat istirahat.
Kini, Lawu sedang membara. Bunga Edelweiss pun layu diamuk si jago merah. Sedikitnya tujuh pendaki tewas dalam musibah kebakaran di Gunung Lawu, Senin (19/10/2015).
Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf mengatakan penyebabnya diduga akibat bekas api unggun yang diduga dibuat pendaki yang menginap. Jika dugaan ini benar, mengisyaratkan layu pula cinta abadi pendaki dengan alam. Tapi bukan bagi para pendaki sejati. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/para-pendaki-lawu_20151018_200858.jpg)