Destinasi Tegal
Buah dan Sayur jadi Rebutan Warga di Ruwat Bumi di Guci
Objek wisata Guci tak hanya menawarkan pemandian air hangat. Setiap Tahun Baru Hijriah digelar acara berebut gunungan dan memandikan kambing kendit.
Penulis: fajar eko nugroho | Editor: rika irawati
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Fajar Eko Nugroho
TRIBUNJATENG.COM - Wajah Anik Setyo (40), warga Desa Brebes, Kecamatan/Kabupaten Brebes, sumringah membawa satu ember berisi buah dan sayur. Hasil bumi tersebut diperoleh setelah dia ikut berebut gunungan bersama puluhan warga.
"Lumayan, buah-buahan dan sayuran ini untuk oleh-oleh. Yang penting dapat. Jadi, tak sia-sia saya dan keluarga datang ke ruwat bumi di obyek wisata Guci ini," kata Anik yang mengaku tak pernah absen dalam acara Ruwat Bumi yang digelar di Objek Wisata Guci, Rabu (21/10/2015).
Ruwat Bumi merupakan kegiatan tahunan yang digelar warga di Kecamatan Bojong dan Bumijawa. Dalam kegiatan tersebut, warga mengarak empat gunungan yang terbuat dari hasil pertanian. Ada kacang panjang, cabai, kentang, terong, petai, jeruk, wortel, sawi, selada, kubis, serta tomat. Gunungan tersebut diperebutkan warga setelah diarak dan didoakan tokoh agama.
Mereka percaya, hasil pertanian yang diperebutkan membawa berkah bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya. "Kegiatan ruwat bumi ini sebagai ungkapan rasa syukur warga kepada Tuhan sekaligus memohon agar dihindarkan dari bencana dan mara bayaha, setahun ke depan," kata Wakil Bupati Tegal Umi Azizah yang turut dalam acara.
Yang unik, di acara tersebut, dilaksanakan pula tradisi memandikan seekor kambing kendit (kambing berwarna hitam namun memiliki garis lingkar warna putih di tubuhnya).

Sejumlah tokoh bergantian memandikan kambing kendit di acara Ruwat Bumi yang digelar di Objek Wisata Guci, Rabu (21/10/2015). (tribun jateng/fajar eko nugroho)
Prosesi pemandian kambing dilakukan secara bergantian oleh wakil Bupati Tegal Umi Azizah dan tokoh masyarakat setempat. Dalam pemandian itu juga turut ditaburkan kembang setaman. "Memandikan kambing kendit ini merupakan simbol kasih sayang terhadap binatang yang juga merupakan makhluk ciptaan Tuhan," ujar Umi.
Menurutnya, sejak puluhan tahun lalu warga Desa Guci menganggap Kambing kendit menjadi simbol kehidupan yang terus berputar. "Kambing kendit ini memang bukan dari sini, warga sini mencarinya di berbagai daerah di Jawa Tengah. Pada tahun ini kambing kendit didapatkan dan dibeli di Purbalingga,"jelasnya.
Meskipun kambing kendit tidak berasal dari Desa Guci, lanjutnya, tetap menjadi simbol untuk terus melestarikan alam dan hewan. "Pada prinsipnya, prosesi ruwat bumi ini tidak termasuk syirik ataupun kegiatan negatif. Ruwat bumi ini sama halnya dengan sedekah dan saling berbagi kepada sesama sebagai ungkapan rasa syukur,"paparnya.
Anda yang belum sempat mengikuti dan menyaksikan meriahnya acara tersebut, bisa merencanakan berlibur ke Objek Wisata Guci tahun depan. Acara tersebut rutin digelar untuk memeringati datangnya Tahun Baru Hijriah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ruwat-bumi-di-guci_20151022_212140.jpg)