Hiruk Pikuk Santri Jateng Sambut Hari Santri Nasional
Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, sekaligus Haul Sunan Kalijaga, puluhan santri membaca ayat suci Alquran
DEMAK, TRIBUNJATENG.COM - Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, sekaligus Haul Sunan Kalijaga, puluhan santri membaca ayat suci Alquran di kawasan makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Kamis (22/10).
Sejumlah santri asal Kota Wali ini mengkhatamkan Alquran sebanyak enam kali dalam waktu sehari di kawasan makam Sunan Kalijaga.
Sejak pagi suasana di Makam Sunan Kalijaga terasa khidmad. Lantunan merdu bacaan ayat Alquran terlontar dari puluhan santri perwakilan beberapa pondok pesantren di Demak.
Para santri yang masing-masing ditugaskan oleh pondoknya itu mengemban amanah harus bisa mengkhatamkan Alquran secara hafalan, sebagai bentuk bhaktinya kepada Sunan Kalijaga selaku penyebar ajaran Islam di tanah Jawa.
Menurut Ketua Panitia Haul Sunan Kalijaga, Eddy Nursalim, kegiatan santri tersebut selain memperingati Hari Santri Nasional juga peringatan Haul Sunan Kalijaga yang ke 437. Para santri terpilih ini sengaja diimbau untuk mengkhatamkan Alquran dengan cara khatam Quran bil Ghoib atau hafalan.
"Para santri asal Demak ini mewakili pondok pesantrennya untuk mengkhatamkan Alquran sebanyak enam kali. Selain Haul Sunan Kalijaga ini juga dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, " kata Eddy kepada Tribun Jateng, kemarin.
Santri Adalah Pelaku Sejarah
Kegiatan dalam rangka hari santri yang jatuh pada 22 Oktober juga berlangsung di beberapa daerah, termasuk di Brebes.
Ketua PC NU Kabupaten Brebes Athoillah mengatakan NU dengan getol mengusulkan perlu adanya peringatan hari santri tanggal 22 Oktober, agar santri sebagai pelaku sejarah melanjutkan perjuangan bangsa.
“Kita tidak rela NKRI terbeli, Santri berjuang untuk negeri!,” teriak Athoillah di hadapan puluhan ribu santri di Islamic Center Jalan Yos Sudarso, Brebes, kemarin.
Di Kendal, antusiasme warga terasa saat kegiatan Mlaku Bareng Santri di Alun-alun Kendal. Para santri dari seluruh pondok pesantren se-Kendal, tumpah ruah sejak pagi. Mereka datang ditemani para pengasuh pesantren, seperti KH Suyuti, KH Solahudin, KH Mahsunan, dan KH Baduhun.
Kegiatan Mlaku Bareng Santri tersebut dilepas oleh Habib Firdaus Al Munawwar yang merupakan pengasuh Darul Muqorrobin.
Di Ungaran acara serupa juga berlangsung meriah. Pukul 06.00, ribuan santri dari berbagai elemen seperti perwakilan santri pondok pesantren (ponpes), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (NU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Semarang mulai bergerak dari Kawasan Palagan Ambarawa menuju Alun-Alun Bung Karno, Kalirejo Ungaran Kabupaten Semarang.
Apel Kebangsaan Peringatan Hari Santri Nasional dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, kiai. Pengasuh ponpes Al Mansyur Ungaran Gus Birun Wahab membacakan lima poin dalam Ikrar Santri Indonesia yang kemudian diikuti sekitar 5.000 santri se Kabupaten Semarang.
Di Grobogan, Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadin, Desa Kemiri, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menggelar lomba Kaligrafi. Lomba menulis lafal Alquran dengan indah yang diikuti oleh puluhan santriwan santriwati Hidayatul Mubtadin ini dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional.
Protes Muhammadiyah
Kendati menuai protes dari pimpinan pusat Muhammadiyah, Presiden Joko widodo akhirnya meresmikan hari Santri Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (22/10). Bagi mantan Gubernur DKI Jakarta itu, hari Santri Nasional justru tidak menciptakan sekat-sekat sosial.
"Saya meyakini penetapan Hari Santri Nasional tak akan menciptakan sekat-sekat sosial di antara para santri. Sebaliknya akan mempertebal semangat cinta Tanah Air. Semangat keberagaman semangat menjadi santri untuk Indonesia," ujar Jokowi dalam sambutan peresmian Hari Santri Nasional.
Jokowi menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional lewat Keputusan Presiden (Keppres) No 22 Tahun 2015. Meski hari besar, pemerintah tidak menetapkan Hari Santri Nasional sebagai hari libur.
Sebelumnya, Pengurus Pusat Muhammadiyah keberatan dengan rencana pemerintah menetapkan Hari Santri yang akan diperingati setiap 22 Oktober. Atas keberatan tersebut, PP Muhammadiyah melayangkan surat kepada Presiden Joko Widodo.
"Sikap Muhammadiyah tentang Hari Santri sebagaimana surat PP Muhammadiyah ke Presiden Jokowi yang dikirim hari ini," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti. (Dse/nug/put/pow/tribunnews/nic/kps)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/atraksi-banser-semarang-peringati-hari-santri_20151022_181826.jpg)