Tiga Siswa MTs Ini Ubah Asap Rokok Jadi Oksigen

Sempat diremehkan dan dipandang sebelah mata, mereka justru pulang menggondol medali emas

Tiga Siswa MTs Ini Ubah Asap Rokok Jadi Oksigen
tribun jateng/yayan isro roziki
TIGA siswa dari MTs pondok pesantren (Ponpes) Tahfidz Yanbu ul Qur an, Kudus, menjadi satu-satunya madrasah di Indonesia yang mengirimkan tim dan mengikuti Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2015, setingkat SMP, di Bali. 

Bagi seorang perokok, asap rokok adalah sesuatu yang bisa dinikmati. Namun mereka yang bukan perokok akan sangat terganggu dengan asap yang keluar dari mulut perokok. Siswa Mts dari Kudus ini menemukan solusinya.

TIGA siswa dari MTs pondok pesantren (Ponpes) Tahfidz Yanbu'ul Qur'an, Kudus, menjadi satu-satunya madrasah di Indonesia yang mengirimkan tim dan mengikuti Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2015, setingkat SMP, di Bali.

Sempat diremehkan dan dipandang sebelah mata, mereka justru pulang menggondol medali emas, untuk kategori 'Lomba Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa'.

"Kami sempat minder, karena alat yang kami rangkai cukup sederhana. Sementara, punya peserta lain bentuknya bagus-bagus. Namun, setelah pengumuman, mereka kaget karena kami bisa menggondol medali emas," kata seorang anggota tim, Abdullah Faqih, di saat ditemui di sekolahnya, Senin (2/11).

Disampaikan, tim yang beranggotakan ia dan dua temannya, Alin Adzkannuha dan M. Nasim Mubarok, itu menciptakan alat pengurang polutan, yang diberi nama T-Fanter 25. "Alat ini bisa mendegradasi kadar CO2 dalam asap rokok, dari 60 persen menjadi 14 persen," cerita Faqih, sembari menerangkan komponen dan cara kerja alat tersebut.

Anggota tim lainnya, Alin, mengatakan ia dan rekan-rekan menciptakan alat ini di bawah pengawasan guru pembimbing, M. Saman. Butuh waktu empat bulan untuk merangkai alat tersebut, mulai dari penyiapan bahan hingga diujicobakan di laboratirum milik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

"Awal ikut lomba, kita kirimkan naskah ke Jakarta, di sana harus bersaing dengan 1.124 naskah lainnya. Kemudian, ribuan naskah itu disaring menjadi 113," katanya.

Selanjutnya, dari 113 hasil karya ilmiah yang lolos seleksi dikelompokkan per provinsi, untuk dilakukan pembinaan. "Selama 22-24 Oktober 2015, bersama enam sekolah lain se-Jateng yang lolos, kami dikumpulkan dan diberi pelatihan di Semarang. Lalu, pada 25-29 Oktober kami berkompetisi secara nasional di Bali," katanya.

Nasim, menambahkan ide membuat alat ini bermula dari banyaknya pabrik rokok di Kudus. Serta, banyaknya perokok yang ada di masyarakat sekitar.

"Kami lalu berpikir, bagaimana caranya agar asap rokok itu tak memberi efek buruk bagi orang sekitar yang tak merokok," ucapnya.

Halaman
12
Penulis: yayan isro roziki
Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved