Siswa SMK di Bawen "Sulap" Sikat Gigi Bekas Jadi Alat Pendeteksi Banjir

siswa SMKN 1 Bawen, Kabupaten Semarang, mengembangkan sebuah inovasi. Mereka membuat alat pendeteksi banjir dari limbah atau sampah

Siswa SMK di Bawen
Kompas.com/ Syahrul Munir
Angeliano (19), siswa kelas XII jurusan Mekanisasi Pertanian, SMKN 1 Bawen, mempraktikan cara kerja alat pendeteksi banjir temuannya. 

TRIBUNJATENG.COM, AMBARAWA — Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Indonesia usai masa kemarau panjang.

Warga yang bermukim di bantaran sungai harus ekstra waspada jika sewaktu-waktu permukaan sungai naik.

Untuk membantu warga agar waspada terhadap banjir, siswa SMKN 1 Bawen, Kabupaten Semarang, mengembangkan sebuah inovasi.

Mereka membuat alat pendeteksi banjir dari limbah atau sampah, seperti sikat gigi bekas, aluminium foil, styrofoam, dan botol kemasan air.

"Di tempat kita ini kan sering terjadi banjir. Datangnya tiba-tiba sehingga warga tidak sempat mengamankan barang-barangnya. Lalu saya membuat inovasi, kalau air sungai naik, sebuah alat akan menyala, dan alarm berbunyi sehingga kita bisa bersiap-siap untuk mengungsi," kata penemu alat tersebut, Angeliano (19), siswa kelas XII jurusan Mekanisasi Pertanian SMKN 1 Bawen, Kamis (12/11/2015) siang.

Secara sederhana, detektor banjir ini terdiri dari kotak pelampung, botol pelampung, kabel-kabel penghubung, baterai, speaker aktif, dan lampu.

Kotak pelampung ini berbentuk segitiga. Dua sisinya berbentuk sangkar, yang terbuat dari rangkaian sikat gigi bekas. Satu sisi lainnya, termasuk alas dan atap kotak pelampungnya, terbuat dari papan bekas.

Di dalam kotak pelampung terdapat sebuah botol yang tutupnya diberi lapisan aluminium foil yang membungkus styrofoam. Bila permukaan air naik, maka botol pelampung ini akan naik dan menyentuh atap pelampung yang juga sudah diberi lapisan aluminium foil yang berfungsi sebagai kutub-kutub penghubung ke lampu dan speaker aktif.

"Cover pelampungnya sengaja didesain dengan bentuk sangkar segitiga untuk mengurangi tekanan air. Memperoleh sikat gigi di sini cukup mudah karena banyak hotel. Dibutuhkan sekitar 41 sikat gigi bekas untuk cover pelampung ini," ujar Dandi Prafiadi, rekan satu tim Angeliano.

Syai'in, salah satu guru pembimbing di kelas Mekanikal Pertanian, mengatakan, alat pendeteksi banjir yang dibuat oleh anak didiknya sengaja memanfaatkan limbah yang banyak dijumpai di lingkungan sekitar untuk meminimalisasi biaya.

Dia menambahkan, meskipun masih purwarupa, alat pendeteksi banjir sederhana itu sudah bisa digunakan untuk skala rumah tangga. Jika akan digunakan untuk skala yang besar, maka ukuran ataupun bahan-bahannya harus diganti dengan yang lebih besar dan lebih kuat.

"Alat ini bisa digunakan secara komunal dengan sedikit modifikasi. Misalnya, detektor suara bisa dihubungkan ke pengeras suara masjid atau mushala sehingga lebih luas jangkauannya," kata Syai'in. (*)

Editor: rustam aji
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved