Ribuan Penduduk Desa Bengkala di Bali Ini Tuna Rungu Sejak Tujuh Generasi

Ribuan Penduduk Desa Bengkala di Bali Ini Tuna rungu Sejak Tujuh Generasi

Ribuan Penduduk Desa Bengkala di Bali Ini Tuna Rungu Sejak Tujuh Generasi
tribunnews.com
Warga Desa Bengkala di Bali selama lebih dari tujuh generasi menggunakan bahasa kolok atau bahasa isyarat sebagai bahasa sehari-hari. 

TRIBUNJATENG.COM - Sekitar 3.000 penduduk di desa ini mengalami tuna rungu sejak lahir. Bahkan mayoritas penduduk di desa Desa Bengkala, Pulau Bali ini tuna rungu, sejak beberapa generasi terakhir ini. Sehingga penduduk di desa ini berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat atau "kata kolok".

Bahasa isyarat mereka berbeda dengan bahasa isyarat Indonesia maupun internasional. Mereka tinggal di sebuah hutan di wilayah utara Bali. Orang asing dan penduduk Bali menyebutnya "kata kolok", bahasa yang tidak pernah diucapkan. Kata kolok dikenal sebagai "pembicaraan orang tunarungu", sebuah bahasa yang sangat unik, bahasa isyarat pedesaan, berbeda dengan bahasa isyarat internasional atau Indonesia.

Bahasa isyarat ini sudah menjadi bahasa utama yang digunakan warga Desa Bengkala secara turun-temurun. Di Bali, banyak penduduk lokal menyebut Desa Bengkala sebagai "Desa Kolok" atau "Desa Tuli". Di Bengkala, jumlah penduduk tunarungu berjumlah lebih banyak dibandingkan orang yang terlahir normal selama lebih dari tujuh generasi terakhir. Tercatat, sekitar 3.000 orang penduduk desa mengalami tunarungu sejak lahir.

Tingginya persentase tunarungu disebabkan oleh gen resesif geografis-centric, yang disebut DFNB3, yang telah hadir di desa selama lebih dari tujuh generasi. Selama bertahun-tahun, penduduk desa percaya tuli itu hasil dari kutukan.

"Cerita yang terkenal adalah bahwa dua orang dengan kekuatan sihir berperang satu sama lain dan kemudian mengutuk satu sama lain untuk menjadi tuli," kata Ida Mardana, Kepala Desa Bengkala, yang bisa berbahasa Bali, Indonesia, Inggris, dan kata kolok. Ia mengatakan, arti dari Bengkala adalah tempat bagi seseorang untuk bersembunyi.

Di Desa Bengkala, para penduduknya sudah terbiasa dengan gaya hidup orang tunarungu. Di seluruh desa, semua warga berbicara dengan menggunakan tangan mereka. Para orangtua di Desa Bengkala mengajari anak-anak mereka kata kolok di rumah, menanamkan benih kesetaraan yang akan tumbuh ketika anak-anak mereka dewasa.

Begitu juga di sekolahan. "Siswa tunarungu belajar bersama-sama dengan mendengar siswa di sini," kata Mardana. "Guru berbicara sekaligus menggunakan bahasa isyarat pada saat yang sama sehingga hampir semua orang tahu kata kolok," ujarnya.

Untuk mata pencaharian, mayoritas penduduk di Desa Bengkala merupakan petani pisang, mangga, jambu, pencari rumput gajah, dan merawat beberapa sapi dan babi serta ayam. Di pasar lokal, mereka harus menggunakan timbangan dan gerakan tangan untuk bisa menjual hasil panen mereka.

"Kadang-kadang, warga di desa ini menghadapi sedikit kesulitan berkomunikasi. Namun, mereka menyelesaikannya dengan penandatanganan sederhana," kata Kadek Sami, seorang ibu dengan dua anak yang mengalami gangguan pendengaran.

Generasi muda penyandang tunarungu di Bengkala kini mulai menggunakan ponsel pintar untuk berkomunikasi di media sosial dan bahasa isyarat internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, remaja-remaja tunarungu telah mendaftar di sekolah asrama tuli terdekat di Jimbaran dan belajar bahasa Indonesia. (tribunnews.com)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved