Ngopi Pagi
Kompeni Komponis
Orang Belanda tentu tak suka jika disebut kompeni. Apalagi bagi mereka yang tahu sejarahnya. Kompeni itu dari kata Compagnie.
Orang Belanda tentu tak suka jika disebut kompeni. Apalagi bagi mereka yang tahu sejarahnya. Kompeni itu dari kata Compagnie. Kata ini diambil dari kepanjangan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), kongsi dagang Belanda yang merajalela di Nusantara pada abad 17 hingga awal abad 19.
VOC dianggap sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia sekaligus perusahaan pertama yang mengeluarkan sistem pembagian saham. Persekutuan dagang yang didirikan pada 20 Maret 1602 itu memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Di Indonesia, VOC monopoli perdagangan rempah-rempah. Konon saat itu untuk harga cengkeh, misalnya, 1 kilogramnya setara 1 kg emas murni.
Raih keuntungan melimpah dagang rempah-rempah, VOC terangsang untuk berlama-lama di Nusantara, negeri yang oleh nenek moyang dulu disebut: gemah ripah loh jinawi (tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya).
Dengan berbagai cara, akhirnya Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Pantas saja sebutan kompeni itu melekat hingga kini. Ingat masa penjajahan, masa kesengsaraan, ingat pula kompeni.
Maklum saja jika kemudian kompeni lebih dikonotasikan dengan kebohongan karena sejarahnya memang begitu. Ini pula yang menginspirasi para pencipta lagu. Lagu Hot Tea berjudul Kamu Bohong, contohnya, bagian liriknya ada kata kompeni. “Nyatanya kamu pendusta seperti kompeni/Yang senang obral janji...” dan seterusnya. Hot Tea adalah grup pengamen yang lagi naik daun.
Tidak mau ketinggalan, komponis dan penyanyi kondang Iwan Fals. Karya terbaru jagoan mencipta lagu bertema kritik sosial ini bertajuk “Janji-janji Jokowi”, dan dilantunkan dalam konser "Untukmu Indonesia" di Istora Senayan, Sabtu(21/11/2015). Lagu itu berisi program-program kerja Presiden Jokowi yang terangkum dalam nawacita. “Janji Jokowi semoga terbukti. Janji Jokowi sungguh dinanti-nanti," demikian sepenggal liriknya. "Janji Jokowi semoga bukan janji kompeni," seru Iwan saat konser.
Nawacita, dalam bahasa Sanskerta, berarti sembilan cita (harapan, agenda, keinginan). Saat Pemilu Presiden 2014, capres-cawapres Jokowi-Jusuf Kalla memaparkan visi-misi sembilan agenda pokok untuk melanjutkan semangat perjuangan dan cita-cita Soekarno yang dikenal dengan istilah Trisakti, yakni berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Terkait sembilan, mengingatkan komponis musik klasik asal Jerman Ludwig van Beethoven (1770- 1827). Karyanya yang terkenal adalah simfoni kelima dan ke-sembilan. Kisahnya, pada 7 Mei 1824 ia sukses besar saat mementaskan simfoni ke-9 di Wina. Ia tidak sadar kalau konsernya selesai. Kemudian salah satu solois alto terpaksa menarik baju Beethoven agar dia mau berbalik dan melihat ke arah penonton yang bertepuk tangan meriah.
Jokowi memang bukan komponis. Tapi, ibarat Beethoven, semoga Jokowi dan kabinetnya --karena kerja dan kerja– akhirnya sampai tak menyadari bahwa sembilan agenda pokok (Nawacita) itu sudah tercapai sesuai target. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/prajurit-angkatan-darat-belanda_20150806_001446.jpg)