Liputan Khusus
Kelompok Jihadis Manfaatkan Rumah Kosong untuk Berlatih
Tinggal sendiri di perumahan Griya Sekar Asri yang mangkrak sejak 1998, tidak membuat Karyono (53) kecil hati.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tinggal sendiri di perumahan Griya Sekar Asri yang mangkrak sejak 1998, tidak membuat Karyono (53) kecil hati. Selama tinggal di kompleks perumahan di wilayah Cempakasari Timur, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang itu, banyak pengalaman yang dialami.
Kompleks perumahan guru SMK Negeri 5 itu memang jauh dari jalan raya. Di antara puluhan rumah yang mangkrak di perumahan itu, hanya rumah Karyono yang ditempati. Kompleks perumahan berada di ujung wilayah Sekaran. Dari jalan Taman Siswa, Karyono harus masuk ke dalam gang lebih dari 1 kilometer. "Karena banyak bangunan tidak berpenghuni, kadang dimanfaatkan untuk hal aneh-aneh," katanya saat ditemui di rumahnya, belum lama ini.
Karyono menceritakan, pada awal tahun 2000 sebelum insiden Bom Bali, kawasan tanah dan bangunan kosong di sekitar rumahnya pernah dipakai latihan ala militer oleh sekelompok jihadis. "Totalnya ada sekitar 30 orang," katanya.
Karyono mengetahui kalau mereka adalah kelompok jihadis karena dirinya pernah bertegur sapa. Salah seorang dari mereka pernah mengetuk pintu rumahnya. "Mereka tanya lokasi masjid. Saya sempat tanya mereka darimana dan sedang apa, jawabannya lagi latihan jihad. Setelah itu saya tidak pernah lihat mereka lagi," jelasnya.
Tidak hanya itu, pernah juga seorang pencuri sepeda motor yang dikejar warga 'nyelonong' ke rumah-rumah mangkrak. Pencuri itu meninggalkan sepeda motor curiannya di salah satu rumah kosong, kemudian berlari menyelamatkan diri.
Istrinya, Sri Endah Wahyuningsih (48) mengatakan beberapa anak muda juga pernah berkumpul di salah satu rumah kosong. Setahunya bermain kartu. Kadang-kadang pada malam hari, ia mendengar mobil atau suara sepeda motor masuk ke kawasan rumah mangkrak. Entah tersesat atau bagaimana, ia tidak bisa memastikan. "Kalau sore kadang ada sepasang anak muda juga datang naik sepeda motor," ucapnya.
Ada juga kegiatan positif dilakukan warga di perumahan Girya Sekar Asri. Misalnya, sejumlah mahasiswa seni rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) datang untuk melukis.
Endah mengungkapkan, meski agak terpencil dan mangkrak, ia mendapat ketenangan tinggal di Griya Sekar Asri, karena suasana rumahnya masih asri. Tiap pagi, ia masih bisa mendengar suara khas ayam hutan hingga kicauan burung. Bahkan, kabut pun masih ada. Baginya, tempat tinggalnya serasa bangunan vila. "Kalau akhir-akhir ini sudah tidak ada kejadian aneh-aneh lagi. Apalagi polisi juga rutin muter sampai sini. Paling-paling masalahnya sampah, ada warga yang buang sampah di rumah mangkrak," ucap dosen Unnes itu. (*)