Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ganjar: Ilmu Titen Bisa Digunakan Untuk Mengurangi Risiko Bencana

Sepanjang tahun 2015, terdapat sebanyak 170 kejadian bencana banjir, 487 bencana tanah longsor

Tayang:
Penulis: m nur huda | Editor: galih pujo asmoro
TRIBUNJATENG/M NUR HUDA
Ganjar Pranowo Pimpin Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Banjir dan Tanah Longsor di Simpanglima, Selasa 5 Januari 2016 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sepanjang tahun 2015, terdapat sebanyak 170 kejadian bencana banjir, 487 bencana tanah longsor yang megakibatkan korban jiwa sejumlah 25 orang. Sedangkan kerugian akibat bencana ditaksir mencapai Rp 46,34 miliar.

“Ada duka yang mendalam karena banyak korban di dalamnya. Kita harus bergerak mengurangi risiko bencana,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat memimpin apel kesiapan penanggulangan banjir dan tanah longsor, di lapangan Simpanglima Kota Semarang, Selasa (05/01/2016).

Pada 28 November 2015, telah dilakukan deklarasi kota tangguh bencana di Wonogiri. Hal itu diharapkan mampu menggugah semangat untuk mengerahkan potensi dan kearifan lokal khususnya dalam penanggulangan bencana. Kepedulian masyarakat, ucap Ganjar, juga sangat penting.

“Early Warning System (EWS) telah kita pasang, ada kentongan alat tradisional, ada ilmu titen yang bisa dipakai agar risiko bencana bisa dikurangi. Pahami ciri-ciri daerah yang akan banjir maupun longsor dan sebagainya,” katanya.

Adapun data dari BPBD Jateng, sejak November 2015 hingga 5 Januari 2016 telah terjadi 204 kejadian bencana, dengan total rumah rusak berat ada 37, rusak ringan 80 rumah. Total kerugian sekitar 2,9 miliar.

Untuk bencana puting beliung sebanyak 84 kejadian dan berdampak pada rumah rusak berat ada 38 rumah, rusak ringan ada 20 rumah. Bencana tanah longsor terjadi di 94 titik, dampaknya ada enam rumah rusak berat, dan 16 rusak ringan.

Kemudian bencana banjir ada 17 kejadian yang mengakibatkan satu rumah rusak sedang. Banjir bandang terjadi di delapan titik, dan berdampak pada satu rumah rusak ringan dan lima rumah rusak sedang.

Adapun angin topan atau puting beliung frekuensi tertinggi ada di Kabupaten Cilacap yakni sebanyak 11 kali. Kejadian paling menonjol di 20 November 2015 di Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang ada 124 rumah rusak.

Banjir dan banjir bandang frekuensi tertinggi ada di Kabupaten Kudus yakni sebanyak empat kali, paling menonjol pada 14 Desember 2015 yaitu lima rumah rusak dan 400 rumah terendam.

Tanah longsor frekuensi tertinggi ada di Kabupaten Banyumas dengan total kejadian sebanyak 19 kali, paling menonjol telah mengancam 60 keluarga dan 150 jiwa. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved