Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Cegah TKI Unprosedural, BP3TKI Jateng Memberdayakan TKI di Daerah-daerah

Cegah TKI Unprosedural, BP3TKI Jateng Memberdayakan TKI di Daerah-daerah

Penulis: asti widiyasari | Editor: iswidodo
net
KANTOR BP3TKI JATENG 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Asti Widiyasari

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sepanjang tahun 2015, Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) melakukan pemberdayaan ke beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Sebanyak 80 paket pemberdayaan dilaksanakan diantaranya di Kabupaten Sragen, Tegal, Kebumen, Purworejo dan Pati.

Pemberdayaan ini diberikan kepada TKI purna, TKI bermasalah (TKIB), WNI Overstay (WNIO) dan keluarga dari TKI yang masih aktif atau purna. "Syaratnya, keluarga TKI dapat menunjukkan bukti kalau anggota keluarganya menjadi TKI dan untuk TKI purna cukup menunjukkan paspornya" ucap Kepala BP3TKI Jateng, AB Racman.

Paket pemberdayaan tersebut antara lain berupa pelatihan pembuatan kue, budidaya jamur, membatik, pembuatan sapu dan ternak ayam atau jamur. Satu paket pelatihan diberikan selama satu minggu dengan menggandeng mitra lokal dan bisnis. "Mitra lokal bertugas memberi pelatihan sedangkan mitra bisnis memberi edukasi keuangan," ujar Rachman.

Satu paket pelatihan bernilai antara Rp 60-70 juta, jumlah tersebut sudah menutup semua kebutuhan selama pelatihan 25 peserta. Rachman mengucapkan, tujuan pemberdayaan ini sebenarnya untuk mensejahterakan keluarga di pedesaan. "Sekaligus pencegahan terhadap minat orang-orang desa yang ingin menjadi TKI unprosedural," imbuhnya.

Untuk mensejahterakan masyarakat di pedesaan, paling tidak untuk perempuan sudah bisa menghasilkan Rp 75.000/hari dan pria Rp 150.000/hari. "Kalau sudah dapat penghasilan segitu mau nggak kalian pergi jadi TKI?" tanya Rachman kepada tiga calon TKI yang ada dihadapannya. Kemudian ketiganya serentak menggeleng dan menjawab tidak mau.

Selama pemberdayaan, masalah yang dihadapi antara lain adalah kurangnya lahan. Rata-rata edukasi kewirausahaan membutuhkan lahan, seperti pemberdayaan ternak. "Salah satu jalan keluarnya ya menggandeng kepala desa, saya yakin masih banyak lahan milik desa yang bisa dimanfaatkan, misal lahan tepi sungai dan tepi hutan," kata Rachman.

Rachman menuturkan, BP3TKI juga tidak lepas tangan seusai memberi pelatihan. Akan ada monitoring selama dua bulan dengan menempatkan pendamping di setiap daerah. "Yang terpenting, kita juga memberi jaminan pasar, dengan cara bekerjasama dengan mitra bisnis," ucapnya.

Di tahun 2016 ini akan ada 17 paket pemberdayaan yang disediakan dan akan dilakukan kemungkinan di bulan Februari atau Maret. Namun tidak menutup kemungkinan paket pemberdayaan tersebut bertambah. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved