Senin, 4 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ketua Umum Gafatar Anggap Nabi Palsu Ahmad Moshaddeq Sebagai Guru

Mahful mengakui keberadaan Ahmad Musadeq (pendiri Al Qiyadah Al Islamiyah), yang juga mengaku sebagai nabi, mesiah atau juru selamat. .

Tayang:
Editor: a prianggoro
youtube
ORMAS GAFATAR 

TRIBUNJATENG.COM - Kasus dokter Rica Tri Handayani yang disinyalir menjadi korban organisasi bernama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), mengingatkan kembali kepada sosok nabi palsu bernama Ahmad Moshaddeq.

Pria yang dijatuhi hukuman lima tahun penjara itu ternyata tercatat sebagai pembina Gafatar. Sepak terjang Moshaddeq di Gafatar diakui oleh Mantan Ketua Umum Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Mahful Tumanurung.

Mahful mengakui keberadaan Ahmad Musadeq (pendiri Al Qiyadah Al Islamiyah), yang juga mengaku sebagai nabi, mesiah atau juru selamat. Mahful mengatakan Ahmad Musadeq dalam organisasi tersebut sebagai nara sumber atau guru spiritual.

“Dalam organisasi kita punya masing-masing guru di bidangnya. Misalkan Pak Bibit (Bibit Samad, mantan pimpinan KPK) kita tempatkan sebagai pembina di bidang hukum. Dan Beliau (Ahmad Musadeq) kami tempatkan sebagai guru spiritual. Soal juru selamat ini hanya masalah sebutan saja. Kan memang seiap orang harus menjadi juru selamat, membebaskan dirinya,” ujar Mahful saat berbincang presenter stasiun TV di Jakarta, Rabu (13/1).

Kata dia, anggotanya tak hanya datang dari penganut Islam, karena banyak pula yang menganut agama lainnya.

"Kami terdiri dari sejumlah agama, gabungan, tak hanya Islam. Ada Kristen ada Katolik, ada Budha. Cuma mengapa anggota kami lebih banyak yang Muslim, karena mayoritas masyarakat Indonesia pemeluk Islam," katanya.

Atas dasar itulah, Mahful menyebut jika ideologi Gafatar yakni Pancasila. Lantaran Pancasila dianggap ideologi yang bisa menjawab segala persoalan yang ada di Tanah Air.

Bukan Aliran Sesat

Mahful menyatakan organisasi masyarakat yang dipimpinnya bukanlah aliran sesat yang selama ini dituding banyak pihak.

Menurut Mahful, Gafatar merupakan ormas yang konsentrasi dengan berbagai aktivitas kemasyarakatan, dan berorientasi demi kemajuan bangsa. Bukan keagamaan seperti yang dituding banyak orang.

Terkait adanya keragaman profesi para anggotanya --belakangan disebut jika Gafatar ingin membuat negara sendiri--, Mahful menyebut itu tidak benar. Sebab kata dia, adanya perekrutan anggota dari sejumlah profesi lantaran ormas tersebut ingin menanamkan nilai-nilai kebenaran dan kemajemukan bagi para anggotanya.

"Kami ini ingin menanamkan nilai-nilai fitrah, agar mereka kembali ke jati dirinya sebagai hamba. Kalau sudah hamba, maka apa pun yang jadi perintah, pasti akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sebenar-benarnya," kata Mahful.

Meski demikian, dia mengakui Gafatar telah dibubarkan oleh Mendagri, pada 13 Agustus 2015. Saat ini, Gafatar, kata dia sudah tidak ada. Kalaupun masih ada kegiatan organisasi, semata-mata hanya ingin membantu masyarakat di banyak hal.

"Kami ajarkan mereka bertani, kami buka bimbingan belajar, kami buka kesehatan gratis, semua demi masyarakat," katanya. (TRIBUNJATENG.COM/Cetak/14 Januari 2016)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved