Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kampung Lama di Klenteng Gedung Batu Sam Poo Kong

emerintah Provinsi Jateng dan Pemkot Semarang diharapkan mengangkat kembali adanya Kampung Lama di kawasan Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong.

Tayang:
Penulis: m nur huda | Editor: Catur waskito Edy
tribun jateng/m syofri kurniawan
Patung Laksamana Cheng Ho di Kelenteng Sam Poo Kong, Simongan, Kota Semarang, menjadi patung Cheng Ho tertinggi di dunia. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Revitalisasi kawasan Kota Lama sebagai destinasi wisata Kota Semarang diharapkan tidak saja hanya terfokus di kawasan tersebut, namun juga dapat meluas ke lokasi lain yang memiliki nilai sejarah.

Hal itu diungkapkan seorang warga Kota Semarang, Mundjahir, saat menghadiri dialog interaktif 'Mas Ganjar Menyapa' yang digelar di gedung PT Asuransi Jiwasraya, Jalan Letjend Suprapto nomor 23-25 kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (02/02/2016) pagi.

Ia berharap Pemerintah Provinsi Jateng dan Pemkot Semarang juga mengangkat kembali adanya Kampung Lama di kawasan Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong. Karena keberadaannya merupakan karakteristik kota ini.

"Di sana itu dahulu adalah masjid yang sekarang jadi klenteng. Maka alangkah bagusnya jika juga dibangun musala. Agar masyarakat paham sejarah secara lengkap bahwa dahulu ada Laksamana Cheng Ho juga seorang muslim," katanya.

Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengungkapkan, sebenarnya di komplek Sam Po Kong sudah ada musala namun bangunannya kecil dan tidak masuk kategori musala. Ia juga berharap keberadaan Sam Po Kong jangan terlalu dikomersilkan.

Menurutnya, di komplek itu terdapat ruang yang lebar dan harusnya dapat dioptimalkan agar dapat multi fungsi. Misalnya diadakan semacam museum yang menampilkan tentang sejarah pendaratan Laksamana Cheng Ho dan proses interaksinya dengan masyarakat setempat saat itu.

"Agar di sana bisa mengetahui bahwa Laksamana Cheng Ho itu muslim. Dan ini sebagai bentuk multikultur masyarakat kita," ujarnya.

"Tapi saya perlu ngomong dulu dengan mereka (Yayasan atau Pengelola Sam Po Kong), kalau memang iya (pengelola setuju), boleh saja (dibangun musala). Nanti saya akan ngomong dulu, ora gedandab-gedundup (tidak buru-buru), kudu seng cetho (harus jelas)," kata Ganjar.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved