Ngopi Pagi

Provinsi Cinta

Ada nama Eko Patrio, Tantowi Yahya, Dessy Ratnasari, Inneke Koesherawati dan juga model Okky Asokawati.

Provinsi Cinta
KOMPAS.com/TRI SUSANTO SETIAWAN
Ahmad Dhani diabadikan di kediamannya, di Jalan Pinang Mas II, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (5/1/2016). 

TRIBUNJATENG.COM --  Pilkada DKI Jakarta 2017 bakal bertabur bintang. Sejumlah artis ibukota disebut-sebut siap beralih area tarung, dari panggung hiburan ke panggung politik. Ada nama Eko Patrio, Tantowi Yahya, Dessy Ratnasari, Inneke Koesherawati dan juga model Okky Asokawati.

Bahkan, gambar Inneke sudah beredar luas di kalangan wartawan, akhir tahun 2015. Gambar seperti brosur itu terlihat istri pengusaha Aceh tersebut berdampingan dengan eks Caleg PKS Muhamad Idrus.

Terbaru, muncul nama musisi Ahmad Dhani. Pentolan grup band Dewa 19 ini juga menyatakan siap, setelah pimpinan DPW PKB DKI Jakarta menyambangi kediamannya di Jalan Pinang Mas, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (10/2/2016).

PKB beralasan Dhani selain kader NU juga memiliki talenta. Kabar pencalonan Dhani sebagai gubernur DKI Jakarta 2017-2020 pun menjadi perbincangan hangat di media sosial Twitter, dan masuk jajaran trending topic wilayah Jakarta urutan kelima.

Macam-macam komentar para netizen. Salah satu yang menarik dari akun @fxmario. "Gue vote Ahmad Dhani. Dia tahu cara menggunakan uang dan kekuasaan," tulisnya. Kalau Dhani benar-benar serius dan merasa siap, layak mengkalkulasi diri atas komentar netizen itu, lantas menyimak pernyatraan pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna ini.

"Jakarta bukan kota Megapolitan tapi Megapelitan, dia (Jakarta) sudah sulit membagi dengan daerah sekitar," kata Yayat dalam diskusi Quo Vadis Jakarta di Kantor PDIP, Jakarta, Minggu, (30/10/2011) silam. Yayat mengatakan untuk mengatasinya maka dibutuhkan pemimpin serta sistem yang terintegrasi. "Menkombinasikan kepemimpinan dan menata ulang sistem yang terbangun," katanya.

DKI Jakarta juga butuh pemimpin dengan sentuhan “cinta” karena sarat konflik. Mengutip Jakartapedia, hasil penelitian Institut Titian Perdamaian menyeburkan, dalam kekerasan komunal di DKI Jakarta tahun 2010-2011, konflik warga menempati posisi tertinggi di DKI Jakarta. Selain itu, ada pula konflik sosial yang berpotensi mengganggu ketentraman masyarakat Jakarta, seperti konflik antarsuku,, antarpelajar, dan konflik antara kelompok, geng atau preman. Penyebab utamanya adalah tempat hunian, kepadatan penduduk, pengangguran, kemiskinan, minuman keras, dan narkoba, pendidikan, dan lainnya.

Begitulah kompleksitas ibukota negeri ini. Dalam soal cinta, Dhani memang jago mencipta lagu bertema cinta dan menyentuh. Ia pun sebagai bos, atau sebut saja presiden, Republik Cinta, sebuah perusahaan musik Indonesia yang melakukan aktivitas memanage para musisi, penyanyi, band, dan para seniman lain yang berhubungan dengan musik. Semacam anekdot, sebagai “presiden republik cinta’, mudah bagi Dhani untuk mengelola Provinsi DKI Jakrta menjadi “provinsi cinta”.

Tapi, bukan sesederhana itu. Jakarta adalah ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua daerah banyak berharap kota itu punya nilai lebih. Entah Dhani, atau siapa pun yang bakal memimpin DKI Jakarta, diharap dapat menjadikan Jakarta makin dicintai, tidak menakutkan, dan tidak lagi ada yang menjuluki sebagai Megapelitan. Jangan pula seperti cerita film “Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota” yang dibintangi Ateng-Iskak dan dirilis pada 1981 itu. (*)

Penulis: sujarwo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved