Breaking News:

Banjir Kudus

Rupiah Rela Jalan kaki 1 Kilometer Demo Motor Kesayangan

Hujan deras yang belakangan ini sering mengguyur Kudus membuat spillway (sudetan) Sungai Wulan limpas.

Tribun Jateng/M Zainal Arifin
Hujan yang mengguyur Kabupaten Kudus sejak kemarin, membuat ketinggian banjir yang sudah surut kembali naik lagi, Selasa (4/2/2014). 

KUDUS, TRIBUNJATENG.COM - Hujan deras yang belakangan ini sering mengguyur Kudus membuat spillway (sudetan) Sungai Wulan limpas.

Ini mengakibatkan akses jalan menuju Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, terendam air, Jumat (12/2) siang.

Bahkan, di beberapa titik, ketinggian air hingga mencapai 50 sentimeter. Akses jalan menuju dukuh tersebut tak bisa dilewati mayoritas kendaraan bermotor.

Beberapa motor yang nekat lewat akhirnya mati mesin di tengah jalan. "Ndak tahu ini mulainya jam berapa, tadi pagi saya lewat sini belum," kata warga Karangturi, Rupiah.

Lantaran banjir menggenangi akses menuju rumahnya, Rupiah tak berani membawa pulang sepeda motor miliknya. Buruh pabrik rokok ternama itu memilih menitipkan motornya di sekitar tempat kerja, dan pulang dengan berjalan kaki.

"Daripada nanti motor mogok dan rusak kemasukan air, mending dititipkan, saya jalan kaki ndak apa-apa. Dari sini ke rumah jaraknya lebih dari satu kilometer," ucapnya.

Sekretaris Desa Setrokalangan, Abdul Hamdi, mengatakan banjir hanya menggenangi akses jalan menuju Dukuh Karangturi. Sementara, permukiman di wilayah tersebut masih aman.

Disampaikan, jalan yang tergenang memang merupakan akses utama menuju Dukuh Karangturi. Kendati demikian hal tersebut tak sampai membuat warga di padukuhan tersebut terisolasi.

"Yang bawa kendaraan bermotor masih bisa lewat Setrokalangan, agak memutar memang, tapi aman," ucapnya.

Meski beberapa titik di wilayahnya menjadi langganan banjir, menurut Hamdi, pihaknya menganggap kondisi saat ini masih aman. Sehingga, sama sekali belum terpikirkan untuk mendirikan posko pengungsian.

Namun menurut dia, banjir juga merendam sekitar 86 hektare sawah di Setrokalangan. Ini mengakibatkan tanaman padi yang berusia sekitar dua bulan menjadi puso. "Kemungkinan gagal panen, karena masih usia segitu dan terendam air," imbuh dia.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus Bergas C Penanggungan, mengatakan secara keseluruhan kondisi Kudus masih jauh dari status 'bahaya' bencana banjir. Diterangkan, dalam istilah BPBD terdapat lima level kondisi: aman, siaga, waspada, awas, dan bahaya.

"Melihat cuaca seperti ini, masih dalam level dua, yakni siaga. Sehingga kami juga belum berpikir harus menyiapkan tempat pengungsian," ujar dia. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved