Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Para Penerima Beasiswa, TKI Harus Pintar Bagi Waktu untuk Kuliah

Kisah Para Penerima Beasiswa, TKI Harus Pintar Bagi Waktu untuk Kuliah

Editor: iswidodo
net
INGGRIS di Tembok kamarku resensi buku 

TRIBUNJATENG.COM - Para penekun ilmu adalah mereka yang bersungguh-sungguh bersetia pada keilmuan. Bentuk-bentuk penghalang dan aral melintang bukan menjadi soal. Ilmu menjadi tubuh sekaligus ruh yang manunggal. “Godaan” bakda kuliah berupa orientasi bekerja atau hal-hal yang dikategorikan menjauhkan dari keberlanjutan keilmuan coba dienyahkan. Kisah para penerima beasiswa dalam buku ini memberikan penamsil demikian.

Imron Rosidi, misalnya, selepas menyelesaikan kuliah di UIN Jakarta, ia berkarier sebagai pengajar di tiga sekolah swasta sambil memberikan les privat. Ada semacam tekad untuk terus berlama-lama mengembangkan karier di Ibu Kota ketimbang berhasrat belajar di negeri orang. Berada di zona nyaman inilah yang menyebabkan Imron seakan hampir mengubur impiannya beroleh beasiswa ke luar negeri.

Tapi, seorang penekun ilmu tidak pernah puas dengan capaian keilmuannya. Ada hasrat untuk meneruskan petualangan akademik. Serasa ada pergolakan batin ketika kesempatan beroleh beasiswa harus ia bayar mahal dengan keluar dari zona nyaman. Dan, Imron memilih membayarnya.

Rampung menyelesaikan studi master di Belanda, Imron pulang kampung. Berasyik-mansyuk menjadi dosen UIN Pekanbaru. Selama empat tahun itu, Imron menikmati betul berada kembali di zona nyaman. Ditambah berjarak dekat dengan orang tua dan sanak kerabat. Tapi, penekun ilmu yang satu ini kembali serasa mengalami pergolakan batin; tertantang meneruskan jenjang akademik doktoral. Dan, Imron memutuskan kembali merantau. Meneruskan jenjang S-3 di Brunei Darussalam (hal 9).

Penekun ilmu selanjutnya ialah Efri Yoni Baikoeni. Semangat untuk beroleh beasiswa dilaluinya dengan perjuangan berdarah-darah. Muasalnya, ia adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) di Brunei Darussalam. Ia begitu menikmati pekerjaan; dengan upah besar dan hidup mapan. Tapi, ada bersitan bahwa seorang TKI harus lah pintar.

Dirasakannya, ketika seorang TKI harus ke kampus, bakal kesulitan membagi waktu antara bekerja dan belajar. Tenaga dan pikiran akan tercurah sedemikian besar. Namun, hambatan itu nyatanya tidak mengendurkan langkahnya. Sampai pada akhirnya pemuda Padang ini sukses bergelar PhD (hal 63).

Bagi yang telah berkeluarga dan mempunyai anak, apalagi telah mapan bekerja, mendapatkan beasiswa ke luar negeri kerap menjadi buah simalakama. Meninggalkan keluarga dan pekerjaan untuk beberapa tahun terasa sangat lama dan memberatkan. Tapi, hambatan macam itu coba tetap dilakoni Arosyid Mannan: memboyong istri. Begitupun dengan Tatang Muttaqin, telah bekerja mapan di sebuah lembaga pemerintahan tidak lantas mengubur impiannya bersekolah di luar negeri. Pun, kala berhasil mendapatkan beasiswa, berat hati terpaksa harus meninggalkan istri yang baru saja melahirkan.

Para penekun ilmu macam di atas berhasil membuktikan bahwa keluar dari zona nyaman dalam konteks urusan studi, merupakan langkah tepat. Meyakini bahwa fitrah manusia adalah selalu ingin mengaktualisasikan diri. Bertujuan demi kemaslahatan banyak orang plus bersumbangsih bagi kemajuan pendidikan dan peningkatan sumber daya manusia Indonesia.

*) Resensi oleh Muhammad Itsbatun Najih, pembaca buku, tinggal di Kudus

Judul: Inggris di Tembok Kamarku: Kisah Para Penerima Beasiswa
Penulis: Enung Nurhayati dkk
Penerbit: Metagraf; Surakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2015
Tebal: 295 Halaman
ISBN: 978-602-73215-3-3

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved