Breaking News:

Warga Penolak Pabrik Semen Rembang Bikin Mushala Di Tenda Gunung Bokong

Warga Penolak Pabrik Semen Rembang Bikin Mushala Di Tenda Gunung Bokong

Penulis: yayan isro roziki | Editor: iswidodo
Warga Penolak Pabrik Semen Rembang Bikin Mushala Di Tenda Gunung Bokong - warga-penolak-pabrik-semen-rembang-bikin-mushala-di-tenda-gunung-bokong_20160215_223616.jpg
tribunjateng/yayan/ist
Warga Penolak Pabrik Semen Rembang Bikin Mushala Di Tenda Gunung Bokong
Warga Penolak Pabrik Semen Rembang Bikin Mushala Di Tenda Gunung Bokong - warga-penolak-pabrik-semen-rembang-bikin-mushala-di-tenda-gunung-bokongg_20160215_223922.jpg
tribunjateng/yayan isro roziki/ist
Warga Penolak Pabrik Semen Rembang Bikin Mushala Di Tenda Gunung Bokong
Warga Penolak Pabrik Semen Rembang Bikin Mushala Di Tenda Gunung Bokong - warga-penolak-pabrik-semen-rembang-bikin-mushala-di-tenda_20160215_223712.jpg
tribunjateng/yayan isro roziki/ist
Warga Penolak Pabrik Semen Rembang Bikin Mushala Di Tenda Gunung Bokong

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yayan Isro' Roziki

TRIBUNJATENG.COM, REMBANG - Warga Rembang, yang terus berjuang menolak berdirinya pabrik semen, meresmikan mushala tenda di tapak pabrik PT. Semen Indonesia Rembang, Senin (15/2).

Mushala tersebut berada di tenda Perjuangan Gunung Bokong. Selain para warga yang menolak pabrik, peresmian musala juga dihadiri oleh Pembina Pondok Pesantren Kauman, Lasem, Rembang, Zaim Ahmad Ma'shoem (Gus Zaim). Para warga yang hadir dalam kesempatan itu terus melantunkan salawat yang dipimpin oleh Ustad Gufron.

Kepala Desa Timbrangan, Nyono, mengatakan bahwa tujuan mendirikan mushala adalah sebagai tempat ibadah untuk dulur-dulur yang sedang berjuang. "Mushala adalah simbol rumah Tuhan. Semoga perjuangan kami dilindungi Tuhan Yang Maha Esa," kata Nyono, dalam rilis yang diterima Tribun Jateng.

Warga Desa Tegaldowo, Abdullah, menambahkan selama ini dulur-dulur terus berjuang mempertahankan tanah mereka, agar tidak ditambang oleh pabrik semen. Selama ini, mereka terpaksa harus tinggal di tenda selama 24 jam secara bergantian sejak 16 Juni 2014 hingga hari ini.

"Perjuangan itu ibadah, tapi juga tak boleh meninggalkan ibadah lainnya, yakni salat. Menyatukan jiwa dan rasa dengan Gusti Allah akan menguatkan semangat dan tekad untuk terus berjuang di jalan Allah," ujarnya.

Warga lainnya, Joko Prianto, perjuangan selama ini, bukan hanya untuk‎ mereka, melainkan untuk anak-cucu dan juga negeri ini. "Kami mendirikan mushala tenda agar kegiatan ibadah salat bisa berjalan dengan baik dan dapat dilakukan secara berjamaah. Doa yang dipanjatkan secara bersama-sama akan besar gaungnya. Semoga Gusti Allah meridhoi semua upaya kita, agar Pegunungan Kendeng tetap lestari," harapnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved