Siswa Lebih Pede Berbahasa Inggris dengan Karren

DUA pengajar berkebangsaan Amerika Serikat (AS), Karren Fosdahl dan Marianne mendatangi SMAN 1 Kendal guna memberikan pelatihan kepemimpinan

Penulis: ponco wiyono | Editor: rustam aji
tribun jateng/ponco wiyono
Karen Fosdahl menyapa siswa SMAN 1 Kendal dalam acara pendidikan kepemimpinan intuk para guru Bahasa inggris di SMAN 1 Kendal, Senin (15/2/2016). 

Ada yang berbeda di SMAN 1 Kendal pagi itu. Dua wanita bule tampak masuk ke ruang kelas untuk mengajar. Para siswa pun antusias berbicara dengan mereka.

DUA pengajar berkebangsaan Amerika Serikat (AS), Karren Fosdahl dan Marianne mendatangi SMAN 1 Kendal guna memberikan pelatihan kepemimpinan kepada para guru Bahasa Inggris yang ada di Kabupaten Kendal, Senin (15/2/2016).

Kedatangan dua orang tersebut merupakan permintaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris Kabupaten Kendal.

Karren merupakan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga, dan sudah bermukim di Indonesia selama 25 tahun. Penunjukannya berdasarkan pada pengalaman Karen mengampu mahasiswa yang rata-rata hendak mengambil profesi sebagai guru.

Karren mengungkapkan, dirinya mencoba untuk menyampaikan karakter pemimpin yang baik, khususnya agar bisa diterapkan bagi guru Bahasa Inggris yang ada di seluruh Kendal.

"Pelatihan kepemimpinan kami berikan kepada para guru Bahasa Inggris dengan tujuan agar perilaku dan kepribadian guru tersebut dapat diteladani oleh para siswanya," katanya.

Acara pelatihan dibuka Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten kendal Muryono pada pukul 13.00. Pagi harinya, kedua pengajar asing itu menyapa para siswa.

Tanpa perlu beradaptasi lama, baik Karren mau pun Marianne bisa dengan mudah menyatu dengan para peserta, yang merupakan para guru Bahasa Inggris dari seluruh sekolah menengah pertama dan menengah atas.

"Sebenarnya saya tidak asing di Kendal ini, dulu juga pernah ada pelatihan di sebuah rumah makan," kata Karren, perempuan asal Arkansas ini.

Ismi, seorang peserta, mengatakan jika Karren sangat hangat, dan cocok menjadi pengajar bagi mereka. Perempuan berjilbab ini menambahkan, ilmu kepemimpinan yang diajarkan Karren mudah dicerna, sehingga ia merasa tidak kesulitan menerapkannya di kelas.

Siswa pun tampak percaya diri saat bercakap-cakap dengan Karren dan Marianne. Bahkan menurut Ismi, para siswa terlihat lebih percaya diri saat bercakap-cakap dengan native speaker semacam Karren, dibandingkan dengan para guru ketika belajar di kelas.

"Bahkan saya berani katakan, mereka sebenarnya sudah mencapai tingkat fluent, alias fasih. Cuma ya itu, mereka perlu dipancing, salah-satunya dengan mendatangkan penutur asli," paparnya.

Guru Bahasa Inggris SMAN 1, Tutik Huma, mengungkapkan, sebelum memberikan materi Training Leadership, kedua relawan tersebut sempat membagikan ilmunya kepada siswa-siswi Smanik, terkait dengan pendidikan, budaya, dan orang-orang dari Negeri Paman Sam.

"Kegiatan ini juga menguntungkan para siswa, agar semangat dalam berlatih bercakap menggunakan Bahasa Inggris yang baik dan benar," ujarnya.

Setidaknya, lanjut Tutik, kegiatan ini melatih keberanian para siswa untuk Speaking (berbicara), dengan orang dari Amerika secara langsung. Bila tidak berani ngobrol secara langsung dengan orang asing, justru tidak akan pernah dapat mengetahui dan mengukur kemampuan seseorang dalam Berbahasa Inggris.

"Mereka dapat mengetahui sejauh mana kemampuan Bahasa Inggrisnya, karena bisa ngobrol langsung dengan orang asing," katanya.

Menurutnya, pribadi guru yang baik ini, diharapkan mampu ditiru dan diteladani oleh para siswanya. "Misalnya, masih ada guru yang enggan mengakui kesalahan di depan murid, ini butuh latihan, demi menjadi pemimpin bagi para siswa," tandasnya. (Ponco Wiyono)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved