Breaking News:

Penggerebekan Terduga Teroris di Malang Jadi Tontonan Warga dan Anak-anak

Penggerebekan Terduga Teroris di Malang Jadi Tontonan Warga dan Anak-anak

Editor: iswidodo
surya.co.id
Anak kecil seliweran di depan polisi bersenjata pakai rompi antipeluru saat menggeledah rumah terduga teroris Achmad Ridho Wijaya di Perumahan Griya Permata Alam JM-7, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Sabtu (20/2/2016). 

TRIBUNJATENG.COM, MALANG- Penggeledahan rumah para terduga teroris di beberapa tempat di Malang menjadi tontonan masyarakat, Sabtu (20/2/2016) kemarin.

Saat pasukan Densus 88 dan polisi gabungan bersenjata lengkap dan memakai rompi antipeluru, orang-orang terlihat santai melihat suasana itu.

Bahkan, anak-anak kecil juga berani berada di depan moncong senjata api para petugas. Sebagaimana terlihat pada foto-foto bidikan fotografer Surya (Tribunnews.com Network), Hayu Yudha Prabowo, anak-anak kecil itu seolah tidak peduli dengan kemungkinan bahaya yang mengancam.

Potensi bahaya itu bisa datang dari ketidaksengajaan aparat maupun kemungkinan perlawanan dari para terduga teroris yang bisa memicu bentrok maupun kontak senjata.

Apalagi, saat penggeledahan di rumah Ahmad Ridho Widjaya, warga Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, polisi menyita bukan hanya buku-buku maupun lambang ISIS tetapi juga pisau, mandau dan senapan angin.
Sementara, polisi ternyata sejak lama mengawasi gerak-gerik Ahmad Ridho Widjaya, juga temannya, Rudi Hadianto.

Kepala Desa Ngijo, Mahdi Maulana, membenarkan dua warga desanya itu diawasi petugas.
"Cukup lama sih, kami diberitahu sehingga ikut membantu pengawasan. Tetapi mau mengingatkan atau berbuat seperti apa ya takut keliru. Akhirnya kami ya hanya mengawasi saja," ujar Mahdi kepada Surya, Sabtu (20/2/2016).

Mahdi tidak menyebut nama Badrodin karena nama itu tidak begitu familiar. Kalau Rudi dan Ridho hidup berbaur dengan warga sekitar. Rumah kedua orang ini berada di permukiman padat penduduk.

"Meskipun tidak akrab, mereka cukup berbaur. Terutama yang di JM-7 (Ridho) sebab dia sudah lama tinggal di situ," imbuhnya.

Ketika ditanya tentang rencana penangkapan warga desanya, Mahdi hanya diberitahu secara lisan. Ia juga menjadi saksi ketika petugas gabungan menggeledah tiga rumah di desanya.
Sementara itu, Ketua RT 07 RW 11 Perum Griya Pertama Alam, Widji, menuturkan, Ridho merupakan sosok yang supel dan ramah dengan warga sekitar.

Widji tinggal di gang yang sama dengan Ridho. Karenanya, ia cukup mengenal warganya yang sudah tinggal sekitar tujuh tahun di tempat itu.

"Orangnya supel dan ramah. Suami istri begitu semua. Awal tinggal di sini, ya biasa kayak kami semua. Ikut kegiatan RT atau kegiatan di musala dekat sini," ujar Widji.
Namun sikap Ridho berubah sekitar tiga tahun silam. Perubahan itu diikuti dengan adanya pengajian seminggu sekali di rumah Ridho. Pengajian itu diikuti oleh orang dari luar perumahan itu.

"Dia juga tidak mau lagi kumpul di musala sini. Dia memilih musala yang agak jauh. Mulai itulah dia juga tidak aktif lagi di kegiatan RT," lanjutnya.
Penampilan Ridho dan istrinya juga berubah. Istri Ridho yang ketika awal tinggal berjilbab seperti layaknya tetangga sekitarnya, kini memakai gamis besar dan cadar.
"Bahkan dua bulan ini kayaknya tidak bekerja lagi. Dia milih jualan gado-gado," imbuhnya.
Karenanya, para tetangga kaget ketika mendengar kabar Ridho ditangkap. Sebab meskipun merasakan keanehan, tetangga tetap melihat keluarga itu ramah. (surya)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved