Nikmatnya Sensasi Pecel Keong Mbak Toen Banyubiru Salatiga
Di Banyubiru, Kabupaten Semarang, tepatnya di dekat Pemandian Muncul, terdapat sebuah rumah makan yang cukup terkenal.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, BANYUBIRU -- Suatu hari, Sistiani Riamukti melintas di jalur alternatif Salatiga-Ambarawa. Di tepi jalan, dekat Pemandian Muncul, Banyubiru, Kabupaten Semarang, dia tertarik untuk rehat, setelah melihat sebuah rumah makan yang cukup ramai. Itulah Rumah Makan Mbak Toen.
Saat Sisti bertanya tentang menu andalan rumah makan sederhana itu, pelayan rumah makan itu langsung menunjuk pecel keong. "Katanya, itu (pecel keong--Red) merupakan menu yang paling sering diminta pelanggan," tutur Sisti kepada Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.
Rumah Makan Mbak Toen terletak di Jalan Raya Salatiga-Banyubiru Km 5, Muncul, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Nama rumah makan itu berasal dari nama sang pemilik, Romjatoen (53).
Sesuai rekomendasi pelayan rumah makan itu, Sisti pun memesan pecel keong. Setelah dia mencicipi pesanannya, ekspektasi Sisti terpenuhi. Pecel itu tersaji bersama keong yang dioseng. Bagaimana rasanya? "Pecel Mbak Toen enak banget, sedap. Lagipula terjangkau harganya," ujar perempuan asal Kota Semarang itu.
Selain pecel keong, kata Sisti, di Rumah Makan Mbak Toen terdapat beraneka macam gorengan dan rempeyek yang menjadi pendamping pecel. Setelah mencoba pecel ia memesan menu lain untuk pendamping pecel, yaitu belut goreng. "Belut yang disajikan besar-besar. Belut tersebut sungguh empuk dan rasanya tidak amis," ungkapnya.
Setelah menyantap makanannya, dia juga mencoba menu lain, yaitu kolak ketan. Menurutnya, kolak tersebut sama dengan kolak yang lainnya yang biasa disantapnya. "Namun yang membuat unik, dalam kolak tersebut terdapat ketan. Jujur saja, saya belum pernah menemui kolak semacam itu. Di makan kolaknya rasa ketannya berasa di lidah," ujarnya.
Kepada Tribun Jateng, Romjatoen menceritakan, sebelum membuka warung dia pada awalnya membantu sang ibu berjualan di Pemandian Muncul. Melihat dagangan ibunya ramai, dia lalu ikut membuka warung di sekitarnya, pada 1996.
"Pertama jualan ya sepi. Satu tahun sampai dua tahun belum ramai. Tiga tahun sampai empat tahun kemudian baru mulai meledak," ujarnya.
Setelah usahanya ramai iapun memberanikan diri untuk menyewa rumah makan di sebelah Kantor Desa Rowobani. Setiap tahun dia membayar Rp 5 juta untuk menyewa tempat tersebut.
Dalam sehari, kata Romjatoen, warungnya bisa menghabiskan 25 kilogram beras. "Saat Lebaran lalu malah bisa menghabiskan beras lima kuintal dalam sehari," katanya.
Soal omzet, Romjatoen mengatakan, tidak bisa dipastikan. Yang jelas, dari warung itulah dia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga kuliah. Saat ini, seorang putra Romjatoen masih menempuh pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. "Dua anak saya sudah menikah. Seorang lagi sudah meninggal dunia," kata ibu empat anak tersebut.
Di warung Romjatoen seporsi pecel keong dibanderol Rp 10 ribu, pecel belut Rp 15 ribu, dan kolak ketan pisang Rp 5 ribu. "Dari semua menu itu, yang paling banyak diminta pengunjung, ya pecel keong," katanya.
Dalam menjalankan usahanya, Romjatoen dibantu 18 pegawai. Setiap hari, rumah makan tersebut buka, termasuk pada hari Minggu. "Justru hari Minggu merupakan hari yang paling ramai pengunjung," katanya. (Rahdyan Trijoko Pamungkas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pecel-keong-mbak-toen_20160222_172923.jpg)